Ku ketuk-ketuk jemari ini Seiring munculnya ribuan lentera hati Dengan pijarnya yang nampak berpendar- pendar di bawah nauangan malam Kekasih, tidakkah kau mampu memandang makna tatapanku? Di balik gemulai lentiknya bulu mata Di mana kumampu menyelipkan guratan- guratan cinta di sana Dan, cinta itu telah menumbuh dengan begitu dasyatnya Kau tahu, Kekasih Desirannya seperti apa? Tentu saja, Aku merasakannya ketika tanganku mulai menggoreskan untaian kata Di atas kain putih dengan tinta di dalam pitnya Kau seharusnya tahu bagaimana debarannya Saat kata demi kata itu membentuk barisan kalimat indah yang kesemuanya hanyalah tentangmu Aku bergetar, luruh dalam imajimu Ini tak semudah apa yang terbayangkan, Kekasih ketika kuuraikan setiap depa rasa yang kupunya Karena tiap memori yang terlewati seharusnya cukup membuat kita saling menyapa Namun, mengapa untaian kata pengharapan cinta saja ...
Aku adalah pijar ketika kau menjelma menjadi api Aku adalah rintik ketika kau menjelma menjadi hujan Aku adalah terang ketika kau menjelma menjadi cahaya Aku adalah malam ketika kau menjelma menjadi mimpi Aku adalah hela ketika kau berubah menjadi udara Aku adalah punguk ketika kau berubah menjadi bulan Aku adalah rintih ketika palung hatimu bersedih Aku adalah tangis ketika matamu serasa perih Aku adalah etape sunyimu Yang pada masanya kan berubah menjadi debu EpL, 21.09.2020