Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari November, 2014

UNTUK KAMU ~ yang patahkan hatiku

#   Pagi  ini kembali… Otakku  bergerilya mencari tiap replika Hadirmu … Ini  kerinduan yang luar biasa Yang  teranyam dari sketsa-sketsa memory yang lalu Kau … gejolakkan hal yang berbeda Disetiap  desahan nafas yang kuhembuskan Mungkin  ini adalah bagian dari pancaran pesonamu ?? Atau mungkin hal yang ajaib dalam dirimu Entahlah…aku yang terkapar Bahkan mungkin menggelepar Dalam nuansa yang tak mudah kupatahkan Atau ku enyahkan… Dan pagi ini… Kembali otakku bergerilya Menyusun tiap aksara semu yang meraja… # Hai … sapamu dihari ini Sedatar air tiada ekspresi Rinduku kandas… Luruh jatuh kebumi Coba kususun kembali Dengan anyaman yang terjalin rapi Namun otakku terlalu sulit untuk mengartikan Sapa halusmu dihari ini… # Aku ingin tahu… Ucapku disuatu malam Dibawah bulan dengan cahaya bintang Yang berpendar-pendar Aku fikir malam ini cukup romantis Entah dengan pola fikir lurusmu Apakah...

Harapan semu sang putri malu

Ia memangkas habis tiap mimpinya Menyesap tiap asa itu kembali Dan menerbangkannya kelangit tertinggi Cinta itu sebuah kata Yang kini tiada makna Ia tiada meratap dengan rasanya Ia tiada mengharap dengan adanya Cukuplah.... Bahagialah ia dengan jalannya Mantra- mantra itu membangkitkannya Dari mimpi panjang yang tak berujung pangkal Dan rajah- rajahpun itu seolah senyawa...

BUNGA BUNGUR

BUNGA BUNGUR Bunga bungur Ditatap sayu oleh wanita tua Dari balik jendela kusam Bunga bungur tetap indah dalam penglihatannya Yang mulai rabun dimakan usia Wanita tua merintih pelan Bunga bungur pelipur lara yang kelam Bunga bungur memberikannya keindahan Bunga bungur saksi air mata yang terbuang Ia yang telah membuatnya besar Namun iapun yang terlupakan.... ( Bogor- terkenang akan seseorang yg bersama menatap bunga bungur dari balik jendela...)

Sebuah Alunan Nada Sumbang

Rangkailah tiap bait indah Yang akan kau berikan padaku Susunlah tiap aksara itu membentuk untaian kata Yang mampu meluluhkan hati batuku Pagi ini bersamaan dengan terbitnya fajar Apapun bisa berubah Dan seiring mentari meninggi Apapun bisa diubah Lalu kau...dan hidupmu... Mengapa sulit sekali berubah Tidakkah tiap bentuk penentangan itu amat melelahkan?? Aku yang hanya mampu memandang Sambil menyesap tiap caffein hingga titik terakhirnya Mereka- reka tiap jengkal dan depa Apa yang akan terjadi Dan siapa yang kan datang dan pergi Duduk bersamaku disini Menghabiskan sisa caffein yang terlihat muram Perjalanan hidup siapa yang tahu Saat ribuan nada sumbang diperdengarkan Ribuan aksara pun notnya pasti terdengar payah...

Hitammu Tabu

Kau berjalan diambang Antara kefanaan dan kenyataan Mengukir tiap kelam Dengan kerinduan akan malam Kau yang mencoba Mengukir tiap liturgi itu Dengan sulaman emas dan Menyusupkan jauh hingga melebihi batas waktumu Kau penampakan dua dunia Merah dan hitam Atau mungkin sebagian warna kelabu yang kelu Tiada bisa kau tarik sebuah harap Lalu kau masukan dalam tiap bejana Yang didalamnya terdapat kenyamanan luar biasa Hitammu itu tabu Berbanding terbalik dengan aura birumu Kau sosok seperti apa Dalam peranmu yang mengharu biru Dimana teriakkanmu akan ruang hampa Mungkin saja membunuhmu Seperti saat ini kau yang terpana Oleh logika yang berada diambang senja....