Langsung ke konten utama

UNTUK KAMU ~ yang patahkan hatiku

# 
Pagi  ini kembali…
Otakku  bergerilya mencari tiap replika
Hadirmu …
Ini  kerinduan yang luar biasa
Yang  teranyam dari sketsa-sketsa memory yang lalu
Kau … gejolakkan hal yang berbeda
Disetiap  desahan nafas yang kuhembuskan
Mungkin  ini adalah bagian dari pancaran pesonamu ??
Atau mungkin hal yang ajaib dalam dirimu
Entahlah…aku yang terkapar
Bahkan mungkin menggelepar
Dalam nuansa yang tak mudah kupatahkan
Atau ku enyahkan…
Dan pagi ini…
Kembali otakku bergerilya
Menyusun tiap aksara semu yang meraja…
#
Hai … sapamu dihari ini
Sedatar air tiada ekspresi
Rinduku kandas…
Luruh jatuh kebumi
Coba kususun kembali
Dengan anyaman yang terjalin rapi
Namun otakku terlalu sulit untuk mengartikan
Sapa halusmu dihari ini…

#
Aku ingin tahu…
Ucapku disuatu malam
Dibawah bulan dengan cahaya bintang
Yang berpendar-pendar
Aku fikir malam ini cukup romantis
Entah dengan pola fikir lurusmu
Apakah kau mampu mengerti arti romantis itu..??
Aku tersenyum dalam fikiranku sendiri
Berharap satu saja kepastian
Akan sebuah jawaban rinduku
Yang sebentar saja meledakkan kepalaku
Dan kau tahu debarannya seperti apa…??
Bahkan aku enggan mengatakannya
Karna kutahu saat aku belum mampu menyelesaikannya
Aku pasti ambruk ke bumi…
Mati seketika dengan jantungku
Yang terlelah oleh adrenalin yang gila
Ini rindu loh…
Yang rasanya mencekik
Tiap  otot pernafasanku…
Hingga sesak…………………………

#
Sial…kali ini aku menggeram
Sepertinya nasib baik tak memihak kepadaku
Bahkan pelayan angkuh yang dicintai haicu
Bereinkarnasi menjadi dirimu
Hingga aku harus mengalami hal yang sama
Menggantung rindu dilangit senja…
Cukup satu kata
Namun membuatku bertanya
Buaianmu itu semu
Tanpa makna
Dan aku terluka
Rasailah gejolaknya
Agar kau tahu bagaimana rasanya putus asa….

#
Untuk kesekian kalinya
Aku ingin abaikan rindu ini
Gelisahnya bagai bara dihati…
Yang semakin lama semakin membakar jiwa
Aku merapal ribuan mantra
Hanya untuk sekedar mencuri hatimu wahai betina
Namun selalu saja kau bungkam
Seolah patung kayu
Yang terpahat sempurna

#
Bunga itu untukmu…
Tadi pagi aku mencurinya
Dari taman ibuku
Lalu kuikatkan pita perwarna biru
Yang kuambil dari laci adik perempuanku
Hidupku memang tak bermodal duhai jelita
Hanya kerinduan saja yang membuatku bangga
Untuk mengajukan ribuan permohonan
Akan indahnya cinta…
Dan lagi…
Kau hanya bungkam…sambil menyapaku datar
Tak pernahkah sapaanmu terasa bergelombang
Terlebih untuk hatiku yang mabuk kepayang
Oh…ginju merah jambumu itu menggodaku
Dalam nelangsa berkepanjangan melawan rindu…

#
Ini adalah ironi
Dan aku harus melawannya
Hingga kuberanikan diri untuk berkunjung kerumahnya
Hai…tidakkah dia sangat cantik
Berbalut baju kuning dengan polkadot hijau bertebaran
Tak ada yang tahu…
Bagaimana ia bisa begitu sempurna
Dalam balutan corak aneh di bajunya…
Setidaknya dalam pandanganku
Yang hanya dipenuhi oleh sosoknya
Apakah dia berpikir hal yang sama
Tentang ketampananku sebagai seorang pria
Tentu saja…
Ia menatapku tak percaya
Karena ada lelaki lain disana
Berwajah indo tampan sempurna
Tidak…sepertinya aku meluruhkannya lagi
Kerinduan yang membuncah hampir meledakkan
Isi kepala idiotku…
Dan aku menagis dimalam itu
Tidak dibawah bulan dengan cahaya berpendar
Yang kufikir terlihat romantis
Namun dibawah guyuran hujan…
Hei… bahkan alampun berpihak pada kepedihanku….

#
Luar  biasanya lelaki sepertiku
Tak kan pernah surut langkahku untuk memulai
Apa yang menjadi garis hidupku
Yaitu kamu…!
Walaupun kutahu
Aku pasti terlihat bodoh dengan kelakuanku
Dan aku terlihat menjijikan dengan ambisiku
Yaitu kamu…!
Lihatlah… bahkan lelaki indo tampan sempurna itu
Takkan  pernah menyurutkan langkahku
Aku tetap teriakkan rindu ini padamu
 Dan kali ini sebatang coklat kuberikan
Lagi kuikat dengan pita biru dari laci adik perempuanku
Mungkin kau harus melangkahi coklat itu
Kalau kau terlalu takut
Bila aku memantraimu untuk dapat berpaling padaku…

#
Kali ini aku bisa melihatnya
Simbol keakuan seorang lelaki
Yang menjatuhkan tangan dipipi indahmu jelita
Dan kau masih bertahan disana
Meremang dalam gemuruh amarah dalam dada
Aku menghardik dalam diam
Mencoba menatapmu dalam
Menghantar impuls-impuls telepati
Dan berharap kau bisa menangkapnya
Pergilah darinya

Dan jatuhkan pilihanmu  padaku…

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MINORITY

                                                       Taman pemakaman itu nampak sepi, beberapa baris batu nisan berjejer dibawah  pohon kamboja dengan bunga-bunganya yang berwarna putih bersih, nampak beberapa helai kuntumnya terbang tertiup angin dan mendarat diatas makam ataupun tanah-tanah kosong yang ditumbuhi beberapa pohon puring berjenis oscar yang memiliki daun besar dengan kombinasi hijau kuning dimana warna kuningnya lebih dominan itu. Selain itu, beberapa tanaman andong-pun tumbuh disana, daunnya yang panjang dan agak besar dengan warnanya yang merah tua dan bersalur hijau tua nampak berdebu. Kesunyian dalam areal pemakaman itu, memberikan makna berbeda, walaupun disiang hari yang begitu terik. Bahwasanya,  ini adalah tempat dimana kau akan membaringkan tubuhmu, dibawah gundukan tanah bersama cacing-cacing yang kelapara...

BUNGA BUNGUR

BUNGA BUNGUR Bunga bungur Ditatap sayu oleh wanita tua Dari balik jendela kusam Bunga bungur tetap indah dalam penglihatannya Yang mulai rabun dimakan usia Wanita tua merintih pelan Bunga bungur pelipur lara yang kelam Bunga bungur memberikannya keindahan Bunga bungur saksi air mata yang terbuang Ia yang telah membuatnya besar Namun iapun yang terlupakan.... ( Bogor- terkenang akan seseorang yg bersama menatap bunga bungur dari balik jendela...)

CURAHAN HATI SEORANG AYAH

                           Kamu...adalah bentuk dari bersatunya air maniku Dengan sel telur ibumu Atas dasar kebesaran cinta Dan perwujudan kasih sayang yang nyata Kamu...yang selalu kugantikan popoknya ditiap malammu Saat ibumu terlalu lelah Untuk  mengurusimu seharian Kamu...yang kuantar ditengah derasnya hujan Didalam pekatnya malam Dan kuteriakkan jangan tidur saya Kita masih dalam perjalanan Dan kamu, yang dipinang seorang lelaki Yang bahkan aku tak tahu apa yang akan ia goreskan dihatimu Seorang putri yang kurawat dengan ketulusan hatiku Dan dia, begitu mudah merusakmu Menjatuhkan air matamu Menyakiti jiwamu Lalu aku? Apa dosaku...sebagai seorang ayah Yang memberikan nafas untuk anak gadisnya Yang merawatnya Dan memberikan beberapa mantra Agar ia menjadi istri yang luar biasa... # Ungkapan nelangsa seorang ayah untuk putrinya...