Kau berjalan diambang
Antara kefanaan dan kenyataan
Mengukir tiap kelam
Dengan kerinduan akan malam
Kau yang mencoba
Mengukir tiap liturgi itu
Dengan sulaman emas dan
Menyusupkan jauh hingga melebihi batas waktumu
Kau penampakan dua dunia
Merah dan hitam
Atau mungkin sebagian warna kelabu yang kelu
Tiada bisa kau tarik sebuah harap
Lalu kau masukan dalam tiap bejana
Yang didalamnya terdapat kenyamanan luar biasa
Hitammu itu tabu
Berbanding terbalik dengan aura birumu
Kau sosok seperti apa
Dalam peranmu yang mengharu biru
Dimana teriakkanmu akan ruang hampa
Mungkin saja membunuhmu
Seperti saat ini kau yang terpana
Oleh logika yang berada diambang senja....
Taman pemakaman itu nampak sepi, beberapa baris batu nisan berjejer dibawah pohon kamboja dengan bunga-bunganya yang berwarna putih bersih, nampak beberapa helai kuntumnya terbang tertiup angin dan mendarat diatas makam ataupun tanah-tanah kosong yang ditumbuhi beberapa pohon puring berjenis oscar yang memiliki daun besar dengan kombinasi hijau kuning dimana warna kuningnya lebih dominan itu. Selain itu, beberapa tanaman andong-pun tumbuh disana, daunnya yang panjang dan agak besar dengan warnanya yang merah tua dan bersalur hijau tua nampak berdebu. Kesunyian dalam areal pemakaman itu, memberikan makna berbeda, walaupun disiang hari yang begitu terik. Bahwasanya, ini adalah tempat dimana kau akan membaringkan tubuhmu, dibawah gundukan tanah bersama cacing-cacing yang kelapara...
Komentar
Posting Komentar