Ku ketuk-ketuk jemari ini Seiring munculnya ribuan lentera hati Dengan pijarnya yang nampak berpendar- pendar di bawah nauangan malam Kekasih, tidakkah kau mampu memandang makna tatapanku? Di balik gemulai lentiknya bulu mata Di mana kumampu menyelipkan guratan- guratan cinta di sana Dan, cinta itu telah menumbuh dengan begitu dasyatnya Kau tahu, Kekasih Desirannya seperti apa? Tentu saja, Aku merasakannya ketika tanganku mulai menggoreskan untaian kata Di atas kain putih dengan tinta di dalam pitnya Kau seharusnya tahu bagaimana debarannya Saat kata demi kata itu membentuk barisan kalimat indah yang kesemuanya hanyalah tentangmu Aku bergetar, luruh dalam imajimu Ini tak semudah apa yang terbayangkan, Kekasih ketika kuuraikan setiap depa rasa yang kupunya Karena tiap memori yang terlewati seharusnya cukup membuat kita saling menyapa Namun, mengapa untaian kata pengharapan cinta saja ...
Menyearah dalam prosa