Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2014

NERAKAMU.....

NERAKA MU.... Ini adalah amarah dalam binalnya hati Yang berupa onggokan daging berdarah yang tak habis- habisnya menjadi bangkai Ini adalah gelora bara dari pikiran gelap Yang tercambuk oleh puluhan pecut yang meluluh lantahkannya menjadi pecahan kecil yang nyaris tak berarti Dan aku memuntahkan darah segar Lalu menjadi terjijik karnanya.... Muaknya aku dengan jalan yang membuatku menyerahkan tubuh Laksana pelacur murahan.... Hancur.... Rasai tangis dan jerit itu sendiri..... Dan kau tahu....aku menunggunya.... Kematian yang mungkin bisa menyelesaikan segalanya.... Dalam kesempurnaannya.... Yang mungkin saja merenggut tiap nestapa Menggantikannya dalam kedamaian panjang....

Lentera hati

Aku ketuk jemari ini Yang memunculkan ribuan lentera hati Berpendar- pendar pijarnya dibawah nauangan malam.... Tidakkah mampu kau pandang tatapanku Dibalik gemulai lentiknya bulu mata Dimana ku mampu menampilkan guratan- guratan cinta Yang begitu dasyatnya.... Kau tahu desirannya seperti apa.... Saat tanganku menggoreskan untaian kata Diatas kain putih dengan tinta didalam pitnya? Dan kau tau bagaimana debarannya...saat kata demi kata itu membentuk barisan kalimat indah tentangmu.... Dan aku tergetar.... Ini tak semudah apa yang terbayangkan.... Tidakkah tiap memori yang terlewati cukup membuat kita saling mengenal ... Tapi...bahkan untaian kata pengharapan cinta saja tak mampu kutuliskan..... Aku menatapmu kembali disana.... Yang selalu tersenyum penuh pesona....

Ameraa

Kau bawa ceritamu laksana dewi surga Dengan kidung- kidung indah bak melodi cinta... Syair yang kau tampakkan itu nyata Membersit tiap harap dalam tiap depa langkah kakinya Aku melantunkan bait itu Seiring tiap goresan senyumanmu.... Hangat dan nampak merona manja Tidakkah ini kunamai cinta...Oh ameraa Dimana yang nampak hanyalah segala yang sempurna Dan kau  nilai tertingginya ...

Intermezo untukmu

Tiba- tiba aku mengingatmu Saat waktu nyaris usai pada titik- titik kulminasinya... Ya...seorang yang dengan gamblang Mengatakan aku abnormal Dan  hanya mampu kubalas dengan tawa panjang.... Dan kamupun tertawa....mencoba merangkai ribuan cerita Penuh pengharapan yang seolah tiada usai Ya itu maumu...menghabiskan sisa umurmu bersamaku..... Menjagaku....dan mengikatku dalam gelombang cintamu Yang maha dasyat.... Dan kini aku merindumu.... Lupakanlah tentang hidup bersamaku Karna kerinduan ini hanya segelintir fase Yang hilang timbul karna aku pernah mengenalmu......

Like a love

Aku memberi nama cinta Pada tiap bait yang serupa aksara Mimpi- mimpi pastipun menjalar disana Aku memberi nama kasih Pada tiap malam- malam sunyi Yang didalam tiap sujudpun memukau indah..... Aku memberi nama pengharapan Hanya untuk sekali saja kau dengar Cintaku bermakna Dan indahnya melebihi kilau mutiara Bak teratai yang mempercantik istana lumpur.... Dan laksana lilin yang ikhlas membakar diri sendiri.....

Cinta itu kamu

Kamu yang menciptakan sebuah peradaban baru Untukku maupun duniaku Kamu hasilkan bongkahan- bongkahan rindu Yang tereinkarnasi dari mimpi- mimpi panjangku.... Saat tiap pembuluh darahku tersumbat oleh siluet hidupmu Kau racuni otakku dengan jutaan pesona Yang tak terbunuh oleh panjangnya waktu Aku cinta....jerit nyata dalam hatiku Melebihi gelombang laut dasyat.... Aku cinta rutukku....seperti ledakan amarah dalam baranya yang bergelora Dan aku cinta.... Tidakkah cinta itu membuatku seolah hidup tapi mati Karna kau takkan pernah kumiliki

Kidung nelangsa sebuah jiwa

Patahkan sebuah kidung cinta Dimana ambisi menggugah karsa Nelangsa.... Aku bisu dan langit yang kujunjung tak bersahabat Meninggalkan kengiluan panjang tak berakhir Diam itu emas...ucap seorang sahabat Tapi bagaimana bila diamku berujung frustasi panjang yang tiada berkesudahan Pendewaan macam apa Yang menghiasi cinta penuh luka Aku bergidik akan takdir yang membuat duka Membumbung binasa menyisakan aroma amisnya Dimana ribuan manyar  merobek mangsa....

UNTUK KAMU ~ yang patahkan hatiku

#   Pagi  ini kembali… Otakku  bergerilya mencari tiap replika Hadirmu … Ini  kerinduan yang luar biasa Yang  teranyam dari sketsa-sketsa memory yang lalu Kau … gejolakkan hal yang berbeda Disetiap  desahan nafas yang kuhembuskan Mungkin  ini adalah bagian dari pancaran pesonamu ?? Atau mungkin hal yang ajaib dalam dirimu Entahlah…aku yang terkapar Bahkan mungkin menggelepar Dalam nuansa yang tak mudah kupatahkan Atau ku enyahkan… Dan pagi ini… Kembali otakku bergerilya Menyusun tiap aksara semu yang meraja… # Hai … sapamu dihari ini Sedatar air tiada ekspresi Rinduku kandas… Luruh jatuh kebumi Coba kususun kembali Dengan anyaman yang terjalin rapi Namun otakku terlalu sulit untuk mengartikan Sapa halusmu dihari ini… # Aku ingin tahu… Ucapku disuatu malam Dibawah bulan dengan cahaya bintang Yang berpendar-pendar Aku fikir malam ini cukup romantis Entah dengan pola fikir lurusmu Apakah...

Harapan semu sang putri malu

Ia memangkas habis tiap mimpinya Menyesap tiap asa itu kembali Dan menerbangkannya kelangit tertinggi Cinta itu sebuah kata Yang kini tiada makna Ia tiada meratap dengan rasanya Ia tiada mengharap dengan adanya Cukuplah.... Bahagialah ia dengan jalannya Mantra- mantra itu membangkitkannya Dari mimpi panjang yang tak berujung pangkal Dan rajah- rajahpun itu seolah senyawa...

BUNGA BUNGUR

BUNGA BUNGUR Bunga bungur Ditatap sayu oleh wanita tua Dari balik jendela kusam Bunga bungur tetap indah dalam penglihatannya Yang mulai rabun dimakan usia Wanita tua merintih pelan Bunga bungur pelipur lara yang kelam Bunga bungur memberikannya keindahan Bunga bungur saksi air mata yang terbuang Ia yang telah membuatnya besar Namun iapun yang terlupakan.... ( Bogor- terkenang akan seseorang yg bersama menatap bunga bungur dari balik jendela...)

Sebuah Alunan Nada Sumbang

Rangkailah tiap bait indah Yang akan kau berikan padaku Susunlah tiap aksara itu membentuk untaian kata Yang mampu meluluhkan hati batuku Pagi ini bersamaan dengan terbitnya fajar Apapun bisa berubah Dan seiring mentari meninggi Apapun bisa diubah Lalu kau...dan hidupmu... Mengapa sulit sekali berubah Tidakkah tiap bentuk penentangan itu amat melelahkan?? Aku yang hanya mampu memandang Sambil menyesap tiap caffein hingga titik terakhirnya Mereka- reka tiap jengkal dan depa Apa yang akan terjadi Dan siapa yang kan datang dan pergi Duduk bersamaku disini Menghabiskan sisa caffein yang terlihat muram Perjalanan hidup siapa yang tahu Saat ribuan nada sumbang diperdengarkan Ribuan aksara pun notnya pasti terdengar payah...

Hitammu Tabu

Kau berjalan diambang Antara kefanaan dan kenyataan Mengukir tiap kelam Dengan kerinduan akan malam Kau yang mencoba Mengukir tiap liturgi itu Dengan sulaman emas dan Menyusupkan jauh hingga melebihi batas waktumu Kau penampakan dua dunia Merah dan hitam Atau mungkin sebagian warna kelabu yang kelu Tiada bisa kau tarik sebuah harap Lalu kau masukan dalam tiap bejana Yang didalamnya terdapat kenyamanan luar biasa Hitammu itu tabu Berbanding terbalik dengan aura birumu Kau sosok seperti apa Dalam peranmu yang mengharu biru Dimana teriakkanmu akan ruang hampa Mungkin saja membunuhmu Seperti saat ini kau yang terpana Oleh logika yang berada diambang senja....

Peri cinta

Tidakkah hari ini terlalu pagi untuk kita bergulat dengan waktu Aku mungkin akan menjadi si haicu yang tak berpikir Saat degub jantungku menegang Mengarah lembut dalam desirannya Menatap indah pesona yang berbalut nuansa merah muda Kau laksana sutra kemilau dengan jutaan pesona Meredam tiap bara merah hitam dalam dada Aku melepuh lusuh Mencari tiap orbit dan ribuan gugusan bintang Yang mengukir jutaan nukilan yang terpahat namamu Aku sebut dirimu peri cinta Bersamaan aroma surgawi yang menembus jiwa.....

SEBUAH SURAT UNTUK SANG RATU

Ratuku... aku merenung termangu merasakan kekosongan jiwa menohok dalam nurani yang hampa Ratuku... kau ingin pagiku seperti apa karna hangatnya mentari tak bisa lagi kurasa berganti dingin membekukan karsa Ratuku... kau ingin siangku seperti apa karna energi matahari tak bisa lagi kucerna berganti kelemahan yang membelenggu asa Ratuku... kau ingin soreku seperti apa karna indahnya senja tak lagi mampu kuterima hingga aku enggan bersamanya Dan Ratuku... kau ingin malamku bagaimana karna ternyata cahaya bulan tak mampu lagi menenangkan jiwa hingga aku enggan menatapnya Ratuku... mungkin aku takkan pernah menjadi sempurna namun kupastikan kukan membuatmu bangga akan kupenuhi semua yang kau pinta hingga kudapat kembali berharga dimata indahmu dinda... Ratuku... aku takkan pernah berharap engkau menjadi Fatimah Az-Zahra karna kau bukanlah dia Dan Ratuku... izinkanlah aku menggenggam kembali tanganmu dengan penu...

PAGIKU DAN SECANGKIR KOPI

Aku menggeliat panjang dari mimpi Merenda malam dengan kelelahan yang teramat sangat Namun mentariku menghapuskannya dengan cepat Adrenalinku kembali melesat Meninggalkan tiap kelelahan Ah....mungkin juga sedikit kekecewaan yang mendera Dan secangkir kenikmatan itu..... Kembali menjalar ditiap nadiku Pun menenangkan fikiran dan jiwaku....

My prose

MY PROSE~ ERLINA PUJI LESTARI 1.SEBUAH JIWA Sebuah jiwa itu bersembunyi Dalam pekatnya siluet malam Yang kadang hilang Namun kadang temaram Lukisan apa dibalik jubah gelapmu Andai kumampu melukiskan pekat itu Hingga terasir sebagian warna kelabu Yang terpancar dari auramu Kau tau kerinduanku Akan belaian do’a Hingga kudapatkan haruman surga Dan kau tahu mimpiku Yang akan mengikuti jalan setapak Dimana kakimu menuju Hingga kutemukan kata damai itu Muingkin seorang pemandu akan kehilangan petanya Atau justru jiwa ini yang kehilangan pemandunya Jiwa itu kugambarkan indah Bak siluet lembayung senja Dan aku dengan segala halusinasiku Mengikuti jejak bayangmu Yang kadang bersahabat namun kadang seolah seteru… Atau mungkin itu imajinasiku saja Yang khawatir kehilangan jejakmu… Sebuah jiwa itu tetap berdiri pongah Dengan keangkuhan yang  terpancar indah Seperti pelita penerang raga… Dan aku tersenyum karnanya… Kau dan kesom...