Aku ketuk jemari ini
Yang memunculkan ribuan lentera hati
Berpendar- pendar pijarnya dibawah nauangan malam....
Tidakkah mampu kau pandang tatapanku
Dibalik gemulai lentiknya bulu mata
Dimana ku mampu menampilkan guratan- guratan cinta
Yang begitu dasyatnya....
Kau tahu desirannya seperti apa....
Saat tanganku menggoreskan untaian kata
Diatas kain putih dengan tinta didalam pitnya?
Dan kau tau bagaimana debarannya...saat kata demi kata itu membentuk barisan kalimat indah tentangmu....
Dan aku tergetar....
Ini tak semudah apa yang terbayangkan....
Tidakkah tiap memori yang terlewati cukup membuat kita saling mengenal ...
Tapi...bahkan untaian kata pengharapan cinta saja tak mampu kutuliskan.....
Aku menatapmu kembali disana....
Yang selalu tersenyum penuh pesona....
Taman pemakaman itu nampak sepi, beberapa baris batu nisan berjejer dibawah pohon kamboja dengan bunga-bunganya yang berwarna putih bersih, nampak beberapa helai kuntumnya terbang tertiup angin dan mendarat diatas makam ataupun tanah-tanah kosong yang ditumbuhi beberapa pohon puring berjenis oscar yang memiliki daun besar dengan kombinasi hijau kuning dimana warna kuningnya lebih dominan itu. Selain itu, beberapa tanaman andong-pun tumbuh disana, daunnya yang panjang dan agak besar dengan warnanya yang merah tua dan bersalur hijau tua nampak berdebu. Kesunyian dalam areal pemakaman itu, memberikan makna berbeda, walaupun disiang hari yang begitu terik. Bahwasanya, ini adalah tempat dimana kau akan membaringkan tubuhmu, dibawah gundukan tanah bersama cacing-cacing yang kelapara...
Komentar
Posting Komentar