Langsung ke konten utama

MINORITY

                                               

       Taman pemakaman itu nampak sepi, beberapa baris batu nisan berjejer dibawah  pohon kamboja dengan bunga-bunganya yang berwarna putih bersih, nampak beberapa helai kuntumnya terbang tertiup angin dan mendarat diatas makam ataupun tanah-tanah kosong yang ditumbuhi beberapa pohon puring berjenis oscar yang memiliki daun besar dengan kombinasi hijau kuning dimana warna kuningnya lebih dominan itu. Selain itu, beberapa tanaman andong-pun tumbuh disana, daunnya yang panjang dan agak besar dengan warnanya yang merah tua dan bersalur hijau tua nampak berdebu.
Kesunyian dalam areal pemakaman itu, memberikan makna berbeda, walaupun disiang hari yang begitu terik. Bahwasanya,  ini adalah tempat dimana kau akan membaringkan tubuhmu, dibawah gundukan tanah bersama cacing-cacing yang kelaparan, dan juga setiap inchi prilakumu akan dipertanggung jawabkan. Lihat, bahkan semua nampak sama, tak ada satupun yang berbeda, tak memandang pangkat, jenis kelamin juga usianya, gundukan tanahnya tetap sama, dan mungkin pilihan terakhir yang menampakan perbedaannya hanya satu ,yaitu warna keramik yang menutupi gundukan tanah tersebut, saranku sebaiknya kalian request untuk warnanya sebelum kalian bersatu dengan bumi Sang Pencipta.
            Masih ditempat yang sama, disebuah taman pemakaman dengan beberapa bunyi-bunyian aneh dari burung-burung yang bahkan penampakan wujudnya saja tak mampu kuraba. Aku berdiri di samping sebuah tanah perkuburan yang masih nampak  basah, dengan sisa bunga setaman warna-warni yang masih tersebar diatasnya, hingga menutupi sebagian tanah coklat yang masih agak becek dan indra penciumanku mampu merasai aroma harum dari kumpulan bunga setaman itu, pelan namun pasti menyeruak masuk kedalam pembuluh hidungku, dan meninggalkan jejak-jejak dikepalaku, suatu saat akupun  akan terbaring disana, dengan kondisi sama, dan sakit yang sama pula. Ironis. Dan entah apa yang akan aku alami nanti, bahkan memikirkannya saja membuat nafasku terasa sesak saat itu juga.
                                                               ****

            “Apa yang seorang perempuan bisa buat, kecuali berteriak ditelinga kita, menuntut kita, dan terakhir mengkhianati kita,” Ujar seorang laki-laki berperawakan tinggi besar, wajahnya tampan dengan garis wajah yang sempurna,”Dan mereka itu rata-rata tak tahu diri dan tak bisa bersyukur, menguras habis uang kita, dan berlalu dengan laki-laki lain,damn,” Rutuknya, sambil menegak se-sloki scotch whisky, minuman yang dikenal karena ketajaman aroma gambut yang kuat dan lama hilang ini. Ia duduk disalah satu kursi bersama beberapa laki-laki lainnya, ditengah-tengah mereka terbentang sebuah meja dengan beberapa hidangan diatasnya. Dan juga beberapa minuman dengan aromanya yang sama menyengat.
            “Ini perkumpulan apa”, pikirku dalam hati, yang berada diantara laki-laki tampan itu. Kami  berada disatu meja, dengan beberapa laki-laki lainnya, yang menurutku nampak sangat dekat satu sama lain. Suara musik dalam cafe itu terdengar keras, karena ini adalah daerah sepanjang Legian, dimana nyaris banyak kejutan hebat didalamnya, bahkan aku sendiri sudah tak bisa membedakan mana bangsa pribumi kita, mana yang orang asing, karena dandanan mereka semua sama, dengan kostum seadanya, dan hiasan tatoo-tatoo di beberapa bagian tubuh mereka yang terlihat terbuka, entah tak sengaja atau memang sengaja dibuka. Sebagian dari pengunjung cafe itu, ada yang berteriak-teriak diatas meja, seorang bule yang mungkin hampir mabuk kurasa. Ia berjingkrak-jingkrak mengikuti alunan lagu yang diputar dicafe tersebut, yang menurutku tak ubahnya seperti toko kaset dalam pasar pada tahun 90-an, sebelum compact  disc, MP3 atau VCD digandrungi.
Mungkin ini seperti mimpi, bagaimana tidak, aku  yang nota bene hanya orang kampung, berasal dari pelosok Pamempeuk daerah Cianjur, mencoba mengadu nasib di jakarta menjadi sopir pribadi seorang pengusaha muda, bisa berada didaerah yang membayangkannya saja rasanya tak mungkin, maka tak heran bahwa daerah ini pernah dibombardir seperti kota Hiroshima atau Nagasaki, karena memang ya seperti ini, surga dunia atau neraka dunia itu tipis sekali.
            Banyak hal yang kudapat dari laki-laki yang menjadi “boss” ku itu, dari liburan yang selalu dibawa serta, tentunya bersama kelompok minoritas yang aku sendiri agak “janggal”berada diantara mereka. Bagaimana  tidak, mereka nyaris tak pernah bersenang-senang dengan mahkluk yang diciptakan Tuhan dengan wujudnya sebagai sosok indah dan pesonanya yang luar biasa, ya... dia adalah wanita, mereka meng-klaim bahwa mereka hanya menghabiskan waktu sia-sia bersama sosok yang biasa kusebut dengan wanita itu, selain hanya bisa membuat hidupnya sengsara, kaum hawapun hanya bisa menguras habis uang mereka, bahkan nyaris tak ada imbal balik yang mereka dapatkan,seolah mereka lupa bahwa ibu , kakak bahkan mungkin adik mereka adalah wanita.
            Ya, kupikir mereka punya alasan tersendiri untuk memilih jalan hidup yang terbilang nyeleneh tersebut, dan entah setan apa yang merasuk dalam pikiranku selanjutnya, akupun terjebak dalam dunia kelabu itu.
            Masih kuingat, awal pertemuanku dengan laki-laki bernama Diandra, seorang eksekutif muda dengan gaya parlente, dan wajah lumayan tampan. Badannya tegak dengan figur yang sangat “laki-laki” kurasa. Ia menghabiskan waktu ditempat fitness selama 1 jam sepulang kerja, ikut boxing dan semua kegiatan yang berbau laki-laki, maka tidak heran kalau postur tubuhnya menunjang untuk memnjadikannya seorang model. Tapi dia bukan model, hanya seorang pengusaha sukses yang mendulang pundi-pundi uang hanya untuk bersenang-senang. Aku  mengenalnya dari salah seorang teman SMA-ku, menurutnya, Diandra ini membutuhkan seorang sopir pribadi, seingatku aku bekerja dengannya sekitar bulan September, awalnya nyaris tidak ada hal yang aneh dari prilakunya. Sampai aku menerima sebuah kabar dari seorang wanita yang amat kucinta, bahwa ia lebih memilih menerima lamaran dari seorang tokai kaya raya dikampung kami, yang serta merta membuatku shock, janji setia itu berakhir dusta. Aku lari ke Jakarta untuk membuatnya bahagia, menghasilkan pundi-pundi uang dari usahaku sendiri dan bergegas melamarnya, tapi nyatanya ia melemparku dalam patah hati dan kamu tahu? itu rasanya sakit sekali.
            Ini adalah kegagalanku yang kesekian kali dalam menjalin hubungan dengan seorang wanita, semua tak berakhir dengan baik, kalau bukan karena tuntutan mereka yang terlalu tinggi pasti berakhir dengan pengkhianatan, apakah aku sedemikian nistanya untuk dicintai?.
            Dan, mungkin aku beruntung. Diantara resahku dan pikiran kacau yang meraja bahkan mungkin telah bermetamorfosis menjadi virus-virus dendam diotakku, Diandra hadir. Bukan sebagai boss namun lebih sebagai teman bagiku,
            “Ayo move on, kamu tetap bahagia tanpa ada wanita disisimu, trust me,” Ujarnya santai.
            Aku hanya menunduk tak tahu harus menjawab apa, maka ia putuskan untuk mengajakku keliling di beberapa daerah, dari NTB, Bali,Lombok,Jogja dan beberapa daerah lainnya yang pastinya belum pernah sekalipun kusinggahi, masih bisa terekam jelas dikepalaku, “ just have fun” itu yang diucapkannya saat aku tanyakan kemana tujuannya pergi. Maka  segalanya berubah, tentunya untukku yang orang ndeso ini, sedikit banyak aku mulai tahu segalanya, Diandra banyak mengajariku beberapa hal, bahkan ia mulai mengajakku dalam sebuah perkumpulan yang isinya kebanyakan laki-laki semua, awalnya aku tidak terlalu aneh, tapi lama-lama aku merasakan kejanggalan demi kejanggalan, dan semua itu cukup membuatku mual, masa jeruk makan jeruk. Diandra itu abnormal.
            Dan akhirnya, semuanya terjadi, disuatu hotel Diandra memutuskan untuk tinggal sekamar denganku, karena ia beralasan kamar di hotel itu  semua penuh, hanya tinggal satu kamar, ya...itu adalah kamar yang akan kami tempati. Ini adalah malam keramat bagiku,  Diandra memintaku untuk bercumbu dengannya, aku menolak dan aku katakan maaf karena aku masih laki-laki normal.
            “Kamu pikir aku bukan laki-laki normal,” Ujar Diandra, saat aku kemukakan alasanku menolak melakukan hal “ itu”.
            “Hey, rasakan saja sensasinya, bukankah kamu ingin melepaskan bebanmu,” Ujarnya diantara desah napas yang memburu, seolah-olah aku adalah mangsa yang akan dilumatnya habis.
            “Iya tapi enggak begini juga Boss,”
            “Lupakan tentang Boss itu, agar kita lebih dekat, banyak hal yang seharusnya kita bisa mengerti,” Ujarnya,”Disana banyak laki-laki normal yang melakukan hal seperti ini, karena frustasi  mereka ataupun tuntutan hidup. Lalu kenapa kamu tidak mau mencobanya?,”
            “Karena saya masih suka wanita, dibanding bercumbu dengan pria,”
Diandra tertawa,” Ya, sorry i am forget, kalau kamu masih laki-laki normal. Dan saya juga suka wanita, bahkan sayapun pernah melakukannya dengan seorang wanita, bahkan ia sampai hamil. Dan sialnya ia memilih menggugurkan kandungannya, ia pikir hidup menjadi seorang ibu adalah hal yang paling menyebalkan,”
            “Boss, lebih baik  saya tidur diluar saja,” Ujarku pada akhirnya, rasanya malas sekali berdebat ataupun mendengar penjelasan boss-ku ini.
            “Anji...,” Desahnya,”Ayolah, sebentar saja, setelah itu lakukan sesukamu. Lagipula bukankah aku yang membiayai hidupmu,bukan?, hotel ini?, tiket perjalanan yang tak murah, bukankah aku telah berusaha membuatmu senyaman mungkin, lalu whats your problem?,” Ujarnya dengan suara agak meninggi. Aku terdiam, beberapa rangkaian kata sempat singgah diotakku, tapi saat aku akan membuka suara tiba-tiba kata-kata itu hilang, seolah asap tanpa jejak.
            “Just relax Anji, jangan lakukan apapun. Cukup diam kalau kamu tak suka kita hentikan ,okey,” Ujarnya lagi, sambil berjalan menghampiriku, dan tatapan matanya seolah mengingatkanku atas jasanya. Akupun diam, dan satu persatu hal yang tak pernah kupikirkan itu terjadi, diluar dugaanku, ini setan atau apa,entahlah...
            Dan mungkin hari yang paling aku ingin lupakan adalah hari ini, dimana pada akhirnya aku menghabiskan malam yang panjang bersama Diandra, dan sialnya, aku benar-benar menikmatinya. Mungkin ini adalah sensasi yang paling berbeda dari apapun, Diandra itu pintar “bermain” kurasa, bahkan ia sangat ahli. Hingga aku  berpikir apa begini saat kita berhubungan dengan sesama pria, semua butuh romantisme awalnya, dan berakhir dengan top or bottom, dan saat itu terjadi, kupikir aku akan merasa jijik , mual atau apa, tapi ternyata naluri manusia itu berbeda, saat romantisme itu sudah muncul bahkan kami tak memikirkan apapun lagi.  Dunia itu gila, ah bukan mungkin aku malah yang sudah gila, hey...ada apa denganku, seolah aku menjerit bertanya-tanya dalam hati. Namun faktanya itu terjadi lagi...lagi dan lagi...
Maka kisah itu berakhir dengan kata-kata sepakat bahwa kami memutuskan untuk menjadi kekasih. Aku masuk dalam golongan minoritas karena kesumatku pada semua wanita yang berlaku dzalim padaku, aku mungkin menjadi sosok terkutuk bahkan menjijikan dalam keluargaku, tapi mereka tak perlu tahu, bukankah ambu* ( ibu ) sudah terlalu renta untuk tahu ini semua, yang jelas Diandra tak segan-segan merogoh koceknya hanya untuk menghidupi dan memenuhi kebutuhan hidup keluargaku ditanah dimana aku dilahirkan. Dan kurasa itu lebih dari cukup.
            Kupikir aku tak akan cemburu, saat Diandra bersama laki-laki lain, karena tidak jarang saat ia mulai mabuk ia akan membawa pulang seorang lelaki bayaran yang mungkin usianya lebih muda dibawahnya, sekitar 20 sampai 25 tahunan. Dan ia bisa menghabiskan waktu lama dalam kamar hanya untuk melampiaskan hasratnya. Bila hal itu terjadi, maka kupastikan aku takkan menegurnya hingga ia benar-benar meminta maaf padaku, aneh. Otakku benar-benar jungkir balik kurasa, bahkan sebesar apapun kucoba tekan perasaanku padanya tetap saja aku tak mampu, bahkan sisa romantisme yang selalu kami lakukan seolah menjadi hasrat tersendiri dalam hidupku. Dan sialnya, aku tak pernah mampu menghapusnya.
Dan  aku juga selalu khawatir saat Diandra menghabiskan waktu dengan kaum minoritasnya. Karena apa? Kupikir aktivitas romantisme itu berlaku untuk siapapun disana, khususnya Diandra, ia tak perlu menunggu”ingin” untuk melakukan itu, karena kubilang Diandra itu pemabuk, ia bisa “bermain” dengan siapa saja, karena dia penganut free sex, dan lagi-lagi aku salah, gejolakku yang kurasakan ternyata sama halnya dengan saat aku berhubungan dengan wanita, kecemburuan dan rasa amarah itu kerap kali muncul, dan aku pikir aku pasti sakit. Bagaimana mungkin? Aku menjadi seorang gay? Apakah menjadi gay  adalah suatu pilihan?
Gila... kepalaku seolah meledak dibuatnya, dan aku menyerah. Aku putuskan untuk mengikuti jalanku saja, ya jalan salah atau benar? Entahlah...bahkan saat ini aku tak bisa membedakan benar dan salah dari sebuah kehidupan, tak ada satu orangpun yang ingin hidup seperti ini, tapi mereka terlalu kalah untuk bisa melawan apapun...
                                                          ****
            Hingga disuatu ketika tiba-tiba Diandra demam tinggi,  semua terjadi begitu saja setelah aku perhatikan beberapa bulan terakhir ia tampak begitu kelelahan, kupikir karena ia bekerja terlalu keras. Maka aku putuskan untuk membawanya ke klinik yang tak jauh dari tempat tinggal kami, mereka memberikannya obat turun panas dan beberapa anti biotik. Tapi kupikir kondisinya tidak juga membaik, malah Diandra mengeluh kalau nafasnya terasa  sesak, bahkan iapun batuk-batuk, hingga dadanya terasa sakit. Bukan itu saja, ia juga mulai  terkena diare bahkan sampai  muntah-muntah juga, aku panik. Kupikir ia bisa saja dehidrasi karena sakitnya, maka kuputuskan untuk membawanya ke Rumah sakit. Semula Diandra menolak dengan alasan bahwa ia takut dirawat, terlebih lagi ia tak suka jarum infus yang pastinya akan menyakitinya. 7 hari berlalu, Diandra makin terlihat pucat dan kuyu,
            “Ini sudah seminggu, mau sampai kapan begini?,” Tanyaku.
            “Ga papa Anji, its okey ,I am fine,” Ujarnya lemah sambil terbaring diatas tempat tidur.
            “Kamu enggak akan pernah baik, lihat mata kamu sudah sangat cekung. Bahkan kamu nyaris engga ada tenaga lagi Di,” Ujarku, yang telah lama membuang embel-embel boss didepan namanya.
            “Its okey dear, nanti aku pasti membaik,”
            Orang ini benar-benar membuat habis kesabaranku, bagaimana mungkin bisa membaik toh kondisinya tak pernah baik sama sekali, akhirnya kali ini aku yang berkuasa atas dirinya,  aku paksa dia untuk berangkat ke Rumah Sakit, dengan sedikit ancaman kalau aku akan meninggalkannya, kalau dia tak mau menuruti kemauanku untuk berobat. Aku benar-benar khawatir ia akan kehabisan banyak cairan. Awalnya ia tetap bersikukuh, dan kembali meyakinkanku kalau takkan ada apa-apa dengannya, tapi aku tak peduli. Dan dia menyerah.
            Ia mendapatkan kelas perawatan sesuai dengan kelasnya, VVIP. Beberapa botol cairan infus masuk dalam pembuluh darahnya, namun sesaknya tak juga mereda, bahkan kadang ia mendapatkan demam hingga 40°C, itu adalah suhu yang luar biasa tinggi kurasa sebagai orang awam, maka dokter memutuskan untuk me-rontgen dadanya. Dan ia dinyatakan terkena Pnemonia. Beberapa dokter konsulen datang dan pergi memeriksa, dan hal teraneh yang kudapatkan adalah, bahwa tak satupun dari mereka yang memberitahuku kondisi sakitnya, selain dari pnemonia yang kutahu dari hasil rontgen dada itu. Bahkan  Diandra-pun hanya berkata,”Nanti saja, enggak ada yang serius Anji, kamu tenang saja,” Ujarnya dengan tegas, saat aku tanyakan mengenai sakitnya.
            “Tapi aku benar-benar cemas, bagaimana mungkin tidak ada yang serius sedangkan kondisi kamu seperti ini?,” Ujarku dengan tatapan cemas.
Dia hanya tersenyum”Thanks, untuk semuanya Anji, kamu sudah mengkhawatirkan aku,”
Dan aku semakin heran saja, saat dokter yang menangani Diandra memutuskan untuk merujuknya ke sebuah Rumah Sakit lain, saat aku pertanyakan itu, Diandra hanya menjawab bahwa Rumah Sakit ini tidak cukup memadai untuk menangani kasusnya. “Orang ini sakit apa” serta merta pikiran itu berkecamuk menjadi PR tersendiri dalam isi kepalaku yang tiba-tiba kembali menjadi primitif.
                                                              ****
“Anji...,” Ujarnya disuatu hari, masih terbaring diatas ranjang,di Rumah Sakit baru dimana ia ditempatkan, walaupun sedikit banyak aku mulai curiga dengan keadaan Rumah Sakit ini, karena beberapa pasien yang kutanya rata-rata mereka terjangkit HIV, namun aku masih ingin berpikiran positive pada Diandra, bukan berarti aku membuang segala kemungkinan tersebuat tapi lebih dari sikap denial-ku, untuk bisa menerima kondisi Diandra, karena apapun alasannya pasti hal itu berimbas padaku. Dan aku cukup yakin untuk bisa menghibur diriku sendiri.
“Maafkan aku Anji, yang tak bisa jujur padamu...,”
“Kenapa Di?,” Tanyaku, ada segelintir rasa cemas yang muncul disana, dalam pikiranku.
“Tentang sakitku...,”
“Kamu akan sembuh Di,”
“Hmmm...Anji, saat semua berakhir ambillah beberapa uangku untuk kamu memeriksakan diri,”
Aku terdiam, adrenalinku tiba-tiba berpacu dengan hebat, aku tak mau mendengar apapun, tentu saja aku berubah menjadi seorang pengecut untuk menerima segala kenyataan apapun.
“Kamu tahu, dokter dirumah sakit terdahulu mengatakan aku positive terjangkit HIV, jadi aku pikir kamu harus tahu itu, dan segeralah memeriksakan diri, aku akan katakan pada pengacaraku bila aku tak ada nanti,untuk memeberikan beberapa uang untukmu,”
Mungkin bagi Diandra, ucapannya itu seolah seperti hiburan untukku, layaknya seorang anak kecil yang akan baik-baik saja saat orang tuanya membelikan balon atau es krim ketika ia menangis keras, tapi tidak seperti itu untukku. Pernyataan Diandra itu seperti sambaran petir di siang bolong untukku, ironis sekali, setelah beberapa bulan aku bersamanya, semua baru terkuak. Aku shock, bahkan andai aku mampu saat itu juga aku ingin sekali membunuhnya. Tapi kupikir lagi, buat apa aku membunuhnya, toh dia sudah tak punya daya, kondisinya tak pernah menjadi membaik setelah ia di rujuk ke Rumah Sakit lain yang “katanya” memiliki pelayanan yang cukup memadai untuk kasus penyakitnya.
Kupikir, iapun tampak tak bersemangat untuk menjalani hidupnya, tak akan ada yang bisa menerima sebuah kenyataan bahwa kita dinyatakan terkena HIV positif, satu-satunya penyakit kutukan yang pasti akan berimbas banyak hal untuk kelangsungan hidup kita, tentu saja menurut kaca mataku sebagai orang awam, dan itu juga alasan Diandra mengapa ia lebih memilih bungkam untuk memberi tahuku tentang kondisinya, walaupun sebenarnya dia sudah tahu apa yang terjadi padanya, dia berpikir aku pasti shock dan khawatir, ya... dan sialnya dia benar. Aku benar-benar khawatir saat ini, penyesalan demi penyesalan hilir mudik muncul dalam otakku, yang akhirnya membuka mataku bahwa yang kulakukan adalah salah. Kemarin itu apa?, aku tertidur, terhipnotis atau apa?, entahlah. Bahkan sebuah penyakit bisa membuka mataku dengan jelas sekarang, aku tak buta, dan dimana pikiranku kemarin, yang tertutup oleh amarah, jiwa hedonisme atau apa dan entahlah...mungkin aku akan meracau untuk kali ini.
  Kurasa Diandra makin lama makin lemah saja dan diperparah dengan kondisi paru-parunya yang terinfeksi, beberapa anti biotik yang masuk dalam pembuluh darahnya tak cukup membantu untuk menjadi lebih baik, kupikir pasti karena psikologisnya pun tak baik, Diandra tak bersemangat untuk menjalani hidupnya lagi, itu yang kurasakan, lalu aku...? bagaimana dengan perasaanku, bahkan aku tak mampu menggambarkan apapun. Hanya mencoba mempersiapkan segala kemungkinan yang bisa saja terjadi padaku, mungkin dalam 2 atau 3 tahun mendatang atau mungkin dalam beberapa bulan atau minggu, entahlah...yang jelas akupun takkan siap untuk mengetahui itu semua. Atau, mungkin aku  berharap sedikit keajaiban dari Tuhan agar penyakit itu tak juga menyerangku, walau kemungkinan 80% aku pasti terjangkit, ya... berapa lama kami melakukan hubungan free sex itu? dan Diandra-pun awalnya sering melakukan hubungan itu bersama laki-laki lain. Sialnya  aku,  yang harus terseret dalam dunia kelabu, dan minoritas gila ini.
                                                           ****
Dan hari ini, aku berdiri dipemakaman yang masih basah, dengan nama Diandra terpampang disana. Akhirnya laki-laki tampan itu menyerah akan nasibnya dan  nasib apa yang kugantungkan dihadapan sebuah nama yang pernah membuat hari-hariku penuh warna ini, memasuki dunia yang sebelumnya tak pernah mampu kujamah oleh akal sehatku, penyesalankah?.
Namun tidakkah keluargaku hidup berkecukupan dikampung sana, hidup terjamin dari uang yang dikirimkan Diandra untuk memenuhi kebutuhan mereka. Tidak kupikir ini adalah jalanku, yang suka tak suka telah menjadi garis takdirku. Tidak ini bukan takdir tapi kebodohanku yang tak mampu keluar dari masalah hidupku sendiri. Semoga Tuhan mengampuniku...
                                                         ****





(dalam sebuah buku berjudul: Minority, penulis: Erlina Puji Lestari)


Komentar

Postingan populer dari blog ini

BUNGA BUNGUR

BUNGA BUNGUR Bunga bungur Ditatap sayu oleh wanita tua Dari balik jendela kusam Bunga bungur tetap indah dalam penglihatannya Yang mulai rabun dimakan usia Wanita tua merintih pelan Bunga bungur pelipur lara yang kelam Bunga bungur memberikannya keindahan Bunga bungur saksi air mata yang terbuang Ia yang telah membuatnya besar Namun iapun yang terlupakan.... ( Bogor- terkenang akan seseorang yg bersama menatap bunga bungur dari balik jendela...)

CURAHAN HATI SEORANG AYAH

                           Kamu...adalah bentuk dari bersatunya air maniku Dengan sel telur ibumu Atas dasar kebesaran cinta Dan perwujudan kasih sayang yang nyata Kamu...yang selalu kugantikan popoknya ditiap malammu Saat ibumu terlalu lelah Untuk  mengurusimu seharian Kamu...yang kuantar ditengah derasnya hujan Didalam pekatnya malam Dan kuteriakkan jangan tidur saya Kita masih dalam perjalanan Dan kamu, yang dipinang seorang lelaki Yang bahkan aku tak tahu apa yang akan ia goreskan dihatimu Seorang putri yang kurawat dengan ketulusan hatiku Dan dia, begitu mudah merusakmu Menjatuhkan air matamu Menyakiti jiwamu Lalu aku? Apa dosaku...sebagai seorang ayah Yang memberikan nafas untuk anak gadisnya Yang merawatnya Dan memberikan beberapa mantra Agar ia menjadi istri yang luar biasa... # Ungkapan nelangsa seorang ayah untuk putrinya...