Taman pemakaman itu nampak sepi,
beberapa baris batu nisan berjejer dibawah
pohon kamboja dengan bunga-bunganya yang berwarna putih bersih, nampak
beberapa helai kuntumnya terbang tertiup angin dan mendarat diatas makam
ataupun tanah-tanah kosong yang ditumbuhi beberapa pohon puring berjenis oscar
yang memiliki daun besar dengan kombinasi hijau kuning dimana warna kuningnya
lebih dominan itu. Selain itu, beberapa tanaman andong-pun tumbuh disana,
daunnya yang panjang dan agak besar dengan warnanya yang merah tua dan bersalur
hijau tua nampak berdebu.
Kesunyian
dalam areal pemakaman itu, memberikan makna berbeda, walaupun disiang hari yang
begitu terik. Bahwasanya, ini adalah
tempat dimana kau akan membaringkan tubuhmu, dibawah gundukan tanah bersama
cacing-cacing yang kelaparan, dan juga setiap inchi prilakumu akan
dipertanggung jawabkan. Lihat, bahkan semua nampak sama, tak ada satupun yang
berbeda, tak memandang pangkat, jenis kelamin juga usianya, gundukan tanahnya
tetap sama, dan mungkin pilihan terakhir yang menampakan perbedaannya hanya
satu ,yaitu warna keramik yang menutupi gundukan tanah tersebut, saranku
sebaiknya kalian request untuk
warnanya sebelum kalian bersatu dengan bumi Sang Pencipta.
Masih ditempat yang sama, disebuah
taman pemakaman dengan beberapa bunyi-bunyian aneh dari burung-burung yang bahkan
penampakan wujudnya saja tak mampu kuraba. Aku berdiri di samping sebuah tanah
perkuburan yang masih nampak basah,
dengan sisa bunga setaman warna-warni yang masih tersebar diatasnya, hingga
menutupi sebagian tanah coklat yang masih agak becek dan indra penciumanku
mampu merasai aroma harum dari kumpulan bunga setaman itu, pelan namun pasti
menyeruak masuk kedalam pembuluh hidungku, dan meninggalkan jejak-jejak
dikepalaku, suatu saat akupun akan
terbaring disana, dengan kondisi sama, dan sakit yang sama pula. Ironis. Dan
entah apa yang akan aku alami nanti, bahkan memikirkannya saja membuat nafasku
terasa sesak saat itu juga.
****
“Apa yang seorang perempuan bisa
buat, kecuali berteriak ditelinga kita, menuntut kita, dan terakhir
mengkhianati kita,” Ujar seorang laki-laki berperawakan tinggi besar, wajahnya
tampan dengan garis wajah yang sempurna,”Dan mereka itu rata-rata tak tahu diri
dan tak bisa bersyukur, menguras habis uang kita, dan berlalu dengan laki-laki
lain,damn,” Rutuknya, sambil menegak
se-sloki scotch whisky, minuman yang
dikenal karena ketajaman aroma gambut yang kuat dan lama hilang ini. Ia duduk
disalah satu kursi bersama beberapa laki-laki lainnya, ditengah-tengah mereka
terbentang sebuah meja dengan beberapa hidangan diatasnya. Dan juga beberapa
minuman dengan aromanya yang sama menyengat.
“Ini perkumpulan apa”, pikirku dalam
hati, yang berada diantara laki-laki tampan itu. Kami berada disatu meja, dengan beberapa laki-laki
lainnya, yang menurutku nampak sangat dekat satu sama lain. Suara musik dalam
cafe itu terdengar keras, karena ini adalah daerah sepanjang Legian, dimana
nyaris banyak kejutan hebat didalamnya, bahkan aku sendiri sudah tak bisa
membedakan mana bangsa pribumi kita, mana yang orang asing, karena dandanan
mereka semua sama, dengan kostum seadanya, dan hiasan tatoo-tatoo di beberapa
bagian tubuh mereka yang terlihat terbuka, entah tak sengaja atau memang
sengaja dibuka. Sebagian dari pengunjung cafe itu, ada yang berteriak-teriak
diatas meja, seorang bule yang mungkin hampir mabuk kurasa. Ia
berjingkrak-jingkrak mengikuti alunan lagu yang diputar dicafe tersebut, yang
menurutku tak ubahnya seperti toko kaset dalam pasar pada tahun 90-an, sebelum
compact disc, MP3 atau VCD digandrungi.
Mungkin
ini seperti mimpi, bagaimana tidak, aku
yang nota bene hanya orang kampung, berasal dari pelosok Pamempeuk
daerah Cianjur, mencoba mengadu nasib di jakarta menjadi sopir pribadi seorang
pengusaha muda, bisa berada didaerah yang membayangkannya saja rasanya tak
mungkin, maka tak heran bahwa daerah ini pernah dibombardir seperti kota
Hiroshima atau Nagasaki, karena memang ya seperti ini, surga dunia atau neraka
dunia itu tipis sekali.
Banyak hal yang kudapat dari laki-laki
yang menjadi “boss” ku itu, dari liburan yang selalu dibawa serta, tentunya
bersama kelompok minoritas yang aku sendiri agak “janggal”berada diantara
mereka. Bagaimana tidak, mereka nyaris
tak pernah bersenang-senang dengan mahkluk yang diciptakan Tuhan dengan
wujudnya sebagai sosok indah dan pesonanya yang luar biasa, ya... dia adalah
wanita, mereka meng-klaim bahwa mereka hanya menghabiskan waktu sia-sia bersama
sosok yang biasa kusebut dengan wanita itu, selain hanya bisa membuat hidupnya
sengsara, kaum hawapun hanya bisa menguras habis uang mereka, bahkan nyaris tak
ada imbal balik yang mereka dapatkan,seolah mereka lupa bahwa ibu , kakak
bahkan mungkin adik mereka adalah wanita.
Ya, kupikir mereka punya alasan
tersendiri untuk memilih jalan hidup yang terbilang nyeleneh tersebut, dan entah setan apa yang merasuk dalam pikiranku
selanjutnya, akupun terjebak dalam dunia kelabu itu.
Masih kuingat, awal pertemuanku
dengan laki-laki bernama Diandra, seorang eksekutif muda dengan gaya parlente,
dan wajah lumayan tampan. Badannya tegak dengan figur yang sangat “laki-laki”
kurasa. Ia menghabiskan waktu ditempat fitness selama 1 jam sepulang kerja,
ikut boxing dan semua kegiatan yang berbau laki-laki, maka tidak heran kalau
postur tubuhnya menunjang untuk memnjadikannya seorang model. Tapi dia bukan
model, hanya seorang pengusaha sukses yang mendulang pundi-pundi uang hanya
untuk bersenang-senang. Aku mengenalnya
dari salah seorang teman SMA-ku, menurutnya, Diandra ini membutuhkan seorang
sopir pribadi, seingatku aku bekerja dengannya sekitar bulan September, awalnya
nyaris tidak ada hal yang aneh dari prilakunya. Sampai aku menerima sebuah
kabar dari seorang wanita yang amat kucinta, bahwa ia lebih memilih menerima
lamaran dari seorang tokai kaya raya dikampung kami, yang serta merta membuatku
shock, janji setia itu berakhir
dusta. Aku lari ke Jakarta untuk membuatnya bahagia, menghasilkan pundi-pundi
uang dari usahaku sendiri dan bergegas melamarnya, tapi nyatanya ia melemparku
dalam patah hati dan kamu tahu? itu rasanya sakit sekali.
Ini adalah kegagalanku yang kesekian
kali dalam menjalin hubungan dengan seorang wanita, semua tak berakhir dengan
baik, kalau bukan karena tuntutan mereka yang terlalu tinggi pasti berakhir
dengan pengkhianatan, apakah aku sedemikian nistanya untuk dicintai?.
Dan, mungkin aku beruntung. Diantara
resahku dan pikiran kacau yang meraja bahkan mungkin telah bermetamorfosis
menjadi virus-virus dendam diotakku, Diandra hadir. Bukan sebagai boss namun
lebih sebagai teman bagiku,
“Ayo move on, kamu tetap bahagia tanpa ada wanita disisimu, trust me,” Ujarnya santai.
Aku hanya menunduk tak tahu harus
menjawab apa, maka ia putuskan untuk mengajakku keliling di beberapa daerah,
dari NTB, Bali,Lombok,Jogja dan beberapa daerah lainnya yang pastinya belum
pernah sekalipun kusinggahi, masih bisa terekam jelas dikepalaku, “ just have fun” itu yang diucapkannya
saat aku tanyakan kemana tujuannya pergi. Maka
segalanya berubah, tentunya untukku yang orang ndeso ini, sedikit banyak aku mulai tahu segalanya, Diandra banyak
mengajariku beberapa hal, bahkan ia mulai mengajakku dalam sebuah perkumpulan
yang isinya kebanyakan laki-laki semua, awalnya aku tidak terlalu aneh, tapi
lama-lama aku merasakan kejanggalan demi kejanggalan, dan semua itu cukup
membuatku mual, masa jeruk makan jeruk. Diandra itu abnormal.
Dan akhirnya, semuanya terjadi,
disuatu hotel Diandra memutuskan untuk tinggal sekamar denganku, karena ia
beralasan kamar di hotel itu semua
penuh, hanya tinggal satu kamar, ya...itu adalah kamar yang akan kami tempati.
Ini adalah malam keramat bagiku, Diandra
memintaku untuk bercumbu dengannya, aku menolak dan aku katakan maaf karena aku
masih laki-laki normal.
“Kamu pikir aku bukan laki-laki
normal,” Ujar Diandra, saat aku kemukakan alasanku menolak melakukan hal “
itu”.
“Hey, rasakan saja sensasinya,
bukankah kamu ingin melepaskan bebanmu,” Ujarnya diantara desah napas yang
memburu, seolah-olah aku adalah mangsa yang akan dilumatnya habis.
“Iya tapi enggak begini juga Boss,”
“Lupakan tentang Boss itu, agar kita
lebih dekat, banyak hal yang seharusnya kita bisa mengerti,” Ujarnya,”Disana
banyak laki-laki normal yang melakukan hal seperti ini, karena frustasi mereka ataupun tuntutan hidup. Lalu kenapa
kamu tidak mau mencobanya?,”
“Karena saya masih suka wanita,
dibanding bercumbu dengan pria,”
Diandra
tertawa,” Ya, sorry i am forget,
kalau kamu masih laki-laki normal. Dan saya juga suka wanita, bahkan sayapun
pernah melakukannya dengan seorang wanita, bahkan ia sampai hamil. Dan sialnya
ia memilih menggugurkan kandungannya, ia pikir hidup menjadi seorang ibu adalah
hal yang paling menyebalkan,”
“Boss, lebih baik saya tidur diluar saja,” Ujarku pada
akhirnya, rasanya malas sekali berdebat ataupun mendengar penjelasan boss-ku
ini.
“Anji...,” Desahnya,”Ayolah,
sebentar saja, setelah itu lakukan sesukamu. Lagipula bukankah aku yang
membiayai hidupmu,bukan?, hotel ini?, tiket perjalanan yang tak murah, bukankah
aku telah berusaha membuatmu senyaman mungkin, lalu whats your problem?,” Ujarnya dengan suara agak meninggi. Aku terdiam,
beberapa rangkaian kata sempat singgah diotakku, tapi saat aku akan membuka
suara tiba-tiba kata-kata itu hilang, seolah asap tanpa jejak.
“Just
relax Anji, jangan lakukan apapun. Cukup diam kalau kamu tak suka kita
hentikan ,okey,” Ujarnya lagi, sambil
berjalan menghampiriku, dan tatapan matanya seolah mengingatkanku atas jasanya.
Akupun diam, dan satu persatu hal yang tak pernah kupikirkan itu terjadi,
diluar dugaanku, ini setan atau apa,entahlah...
Dan mungkin hari yang paling aku
ingin lupakan adalah hari ini, dimana pada akhirnya aku menghabiskan malam yang
panjang bersama Diandra, dan sialnya, aku benar-benar menikmatinya. Mungkin ini
adalah sensasi yang paling berbeda dari apapun, Diandra itu pintar “bermain”
kurasa, bahkan ia sangat ahli. Hingga aku
berpikir apa begini saat kita berhubungan dengan sesama pria, semua
butuh romantisme awalnya, dan berakhir dengan top or bottom, dan saat itu terjadi, kupikir aku akan merasa jijik
, mual atau apa, tapi ternyata naluri manusia itu berbeda, saat romantisme itu
sudah muncul bahkan kami tak memikirkan apapun lagi. Dunia itu gila, ah bukan mungkin aku malah
yang sudah gila, hey...ada apa denganku, seolah aku menjerit bertanya-tanya
dalam hati. Namun faktanya itu terjadi lagi...lagi dan lagi...
Maka
kisah itu berakhir dengan kata-kata sepakat bahwa kami memutuskan untuk menjadi
kekasih. Aku masuk dalam golongan minoritas karena kesumatku pada semua wanita
yang berlaku dzalim padaku, aku mungkin menjadi sosok terkutuk bahkan
menjijikan dalam keluargaku, tapi mereka tak perlu tahu, bukankah ambu* ( ibu ) sudah terlalu renta untuk
tahu ini semua, yang jelas Diandra tak segan-segan merogoh koceknya hanya untuk
menghidupi dan memenuhi kebutuhan hidup keluargaku ditanah dimana aku
dilahirkan. Dan kurasa itu lebih dari cukup.
Kupikir aku tak akan cemburu, saat
Diandra bersama laki-laki lain, karena tidak jarang saat ia mulai mabuk ia akan
membawa pulang seorang lelaki bayaran yang mungkin usianya lebih muda
dibawahnya, sekitar 20 sampai 25 tahunan. Dan ia bisa menghabiskan waktu lama
dalam kamar hanya untuk melampiaskan hasratnya. Bila hal itu terjadi, maka
kupastikan aku takkan menegurnya hingga ia benar-benar meminta maaf padaku,
aneh. Otakku benar-benar jungkir balik kurasa, bahkan sebesar apapun kucoba
tekan perasaanku padanya tetap saja aku tak mampu, bahkan sisa romantisme yang
selalu kami lakukan seolah menjadi hasrat tersendiri dalam hidupku. Dan
sialnya, aku tak pernah mampu menghapusnya.
Dan aku juga selalu khawatir saat Diandra
menghabiskan waktu dengan kaum minoritasnya. Karena apa? Kupikir aktivitas
romantisme itu berlaku untuk siapapun disana, khususnya Diandra, ia tak perlu
menunggu”ingin” untuk melakukan itu, karena kubilang Diandra itu pemabuk, ia
bisa “bermain” dengan siapa saja, karena dia penganut free sex, dan lagi-lagi aku salah, gejolakku yang kurasakan
ternyata sama halnya dengan saat aku berhubungan dengan wanita, kecemburuan dan
rasa amarah itu kerap kali muncul, dan aku pikir aku pasti sakit. Bagaimana
mungkin? Aku menjadi seorang gay? Apakah menjadi gay adalah suatu pilihan?
Gila...
kepalaku seolah meledak dibuatnya, dan aku menyerah. Aku putuskan untuk
mengikuti jalanku saja, ya jalan salah atau benar? Entahlah...bahkan saat ini
aku tak bisa membedakan benar dan salah dari sebuah kehidupan, tak ada satu
orangpun yang ingin hidup seperti ini, tapi mereka terlalu kalah untuk bisa
melawan apapun...
****
Hingga disuatu ketika tiba-tiba
Diandra demam tinggi, semua terjadi
begitu saja setelah aku perhatikan beberapa bulan terakhir ia tampak begitu
kelelahan, kupikir karena ia bekerja terlalu keras. Maka aku putuskan untuk
membawanya ke klinik yang tak jauh dari tempat tinggal kami, mereka
memberikannya obat turun panas dan beberapa anti biotik. Tapi kupikir
kondisinya tidak juga membaik, malah Diandra mengeluh kalau nafasnya
terasa sesak, bahkan iapun batuk-batuk,
hingga dadanya terasa sakit. Bukan itu saja, ia juga mulai terkena diare bahkan sampai muntah-muntah juga, aku panik. Kupikir ia
bisa saja dehidrasi karena sakitnya, maka kuputuskan untuk membawanya ke Rumah
sakit. Semula Diandra menolak dengan alasan bahwa ia takut dirawat, terlebih
lagi ia tak suka jarum infus yang pastinya akan menyakitinya. 7 hari berlalu, Diandra
makin terlihat pucat dan kuyu,
“Ini sudah seminggu, mau sampai
kapan begini?,” Tanyaku.
“Ga papa Anji, its okey ,I am fine,” Ujarnya lemah sambil terbaring diatas
tempat tidur.
“Kamu enggak akan pernah baik, lihat
mata kamu sudah sangat cekung. Bahkan kamu nyaris engga ada tenaga lagi Di,”
Ujarku, yang telah lama membuang embel-embel boss didepan namanya.
“Its
okey dear, nanti aku pasti membaik,”
Orang ini benar-benar membuat habis
kesabaranku, bagaimana mungkin bisa membaik toh kondisinya tak pernah baik sama
sekali, akhirnya kali ini aku yang berkuasa atas dirinya, aku paksa dia untuk berangkat ke Rumah Sakit,
dengan sedikit ancaman kalau aku akan meninggalkannya, kalau dia tak mau
menuruti kemauanku untuk berobat. Aku benar-benar khawatir ia akan kehabisan
banyak cairan. Awalnya ia tetap bersikukuh, dan kembali meyakinkanku kalau
takkan ada apa-apa dengannya, tapi aku tak peduli. Dan dia menyerah.
Ia mendapatkan kelas perawatan
sesuai dengan kelasnya, VVIP. Beberapa botol cairan infus masuk dalam pembuluh
darahnya, namun sesaknya tak juga mereda, bahkan kadang ia mendapatkan demam
hingga 40°C, itu adalah suhu yang luar biasa tinggi kurasa sebagai orang awam,
maka dokter memutuskan untuk me-rontgen dadanya. Dan ia dinyatakan terkena
Pnemonia. Beberapa dokter konsulen datang dan pergi memeriksa, dan hal teraneh
yang kudapatkan adalah, bahwa tak satupun dari mereka yang memberitahuku
kondisi sakitnya, selain dari pnemonia yang kutahu dari hasil rontgen dada itu.
Bahkan Diandra-pun hanya berkata,”Nanti
saja, enggak ada yang serius Anji, kamu tenang saja,” Ujarnya dengan tegas,
saat aku tanyakan mengenai sakitnya.
“Tapi aku benar-benar cemas,
bagaimana mungkin tidak ada yang serius sedangkan kondisi kamu seperti ini?,”
Ujarku dengan tatapan cemas.
Dia
hanya tersenyum”Thanks, untuk
semuanya Anji, kamu sudah mengkhawatirkan aku,”
Dan
aku semakin heran saja, saat dokter yang menangani Diandra memutuskan untuk
merujuknya ke sebuah Rumah Sakit lain, saat aku pertanyakan itu, Diandra hanya
menjawab bahwa Rumah Sakit ini tidak cukup memadai untuk menangani kasusnya.
“Orang ini sakit apa” serta merta pikiran itu berkecamuk menjadi PR tersendiri
dalam isi kepalaku yang tiba-tiba kembali menjadi primitif.
****
“Anji...,”
Ujarnya disuatu hari, masih terbaring diatas ranjang,di Rumah Sakit baru dimana
ia ditempatkan, walaupun sedikit banyak aku mulai curiga dengan keadaan Rumah
Sakit ini, karena beberapa pasien yang kutanya rata-rata mereka terjangkit HIV,
namun aku masih ingin berpikiran positive pada Diandra, bukan berarti aku
membuang segala kemungkinan tersebuat tapi lebih dari sikap denial-ku, untuk bisa menerima kondisi
Diandra, karena apapun alasannya pasti hal itu berimbas padaku. Dan aku cukup yakin
untuk bisa menghibur diriku sendiri.
“Maafkan
aku Anji, yang tak bisa jujur padamu...,”
“Kenapa
Di?,” Tanyaku, ada segelintir rasa cemas yang muncul disana, dalam pikiranku.
“Tentang
sakitku...,”
“Kamu
akan sembuh Di,”
“Hmmm...Anji,
saat semua berakhir ambillah beberapa uangku untuk kamu memeriksakan diri,”
Aku
terdiam, adrenalinku tiba-tiba berpacu dengan hebat, aku tak mau mendengar
apapun, tentu saja aku berubah menjadi seorang pengecut untuk menerima segala
kenyataan apapun.
“Kamu
tahu, dokter dirumah sakit terdahulu mengatakan aku positive terjangkit HIV,
jadi aku pikir kamu harus tahu itu, dan segeralah memeriksakan diri, aku akan
katakan pada pengacaraku bila aku tak ada nanti,untuk memeberikan beberapa uang
untukmu,”
Mungkin
bagi Diandra, ucapannya itu seolah seperti hiburan untukku, layaknya seorang
anak kecil yang akan baik-baik saja saat orang tuanya membelikan balon atau es
krim ketika ia menangis keras, tapi tidak seperti itu untukku. Pernyataan
Diandra itu seperti sambaran petir di siang bolong untukku, ironis sekali,
setelah beberapa bulan aku bersamanya, semua baru terkuak. Aku shock, bahkan andai aku mampu saat itu
juga aku ingin sekali membunuhnya. Tapi kupikir lagi, buat apa aku membunuhnya,
toh dia sudah tak punya daya, kondisinya tak pernah menjadi membaik setelah ia
di rujuk ke Rumah Sakit lain yang “katanya” memiliki pelayanan yang cukup
memadai untuk kasus penyakitnya.
Kupikir,
iapun tampak tak bersemangat untuk menjalani hidupnya, tak akan ada yang bisa
menerima sebuah kenyataan bahwa kita dinyatakan terkena HIV positif,
satu-satunya penyakit kutukan yang pasti akan berimbas banyak hal untuk
kelangsungan hidup kita, tentu saja menurut kaca mataku sebagai orang awam, dan
itu juga alasan Diandra mengapa ia lebih memilih bungkam untuk memberi tahuku
tentang kondisinya, walaupun sebenarnya dia sudah tahu apa yang terjadi
padanya, dia berpikir aku pasti shock
dan khawatir, ya... dan sialnya dia benar. Aku benar-benar khawatir saat ini,
penyesalan demi penyesalan hilir mudik muncul dalam otakku, yang akhirnya
membuka mataku bahwa yang kulakukan adalah salah. Kemarin itu apa?, aku
tertidur, terhipnotis atau apa?, entahlah. Bahkan sebuah penyakit bisa membuka
mataku dengan jelas sekarang, aku tak buta, dan dimana pikiranku kemarin, yang
tertutup oleh amarah, jiwa hedonisme
atau apa dan entahlah...mungkin aku akan meracau untuk kali ini.
Kurasa Diandra makin lama makin lemah saja
dan diperparah dengan kondisi paru-parunya yang terinfeksi, beberapa anti
biotik yang masuk dalam pembuluh darahnya tak cukup membantu untuk menjadi
lebih baik, kupikir pasti karena psikologisnya pun tak baik, Diandra tak
bersemangat untuk menjalani hidupnya lagi, itu yang kurasakan, lalu aku...?
bagaimana dengan perasaanku, bahkan aku tak mampu menggambarkan apapun. Hanya
mencoba mempersiapkan segala kemungkinan yang bisa saja terjadi padaku, mungkin
dalam 2 atau 3 tahun mendatang atau mungkin dalam beberapa bulan atau minggu,
entahlah...yang jelas akupun takkan siap untuk mengetahui itu semua. Atau,
mungkin aku berharap sedikit keajaiban
dari Tuhan agar penyakit itu tak juga menyerangku, walau kemungkinan 80% aku
pasti terjangkit, ya... berapa lama kami melakukan hubungan free sex itu? dan Diandra-pun awalnya
sering melakukan hubungan itu bersama laki-laki lain. Sialnya aku,
yang harus terseret dalam dunia kelabu, dan minoritas gila ini.
****
Dan
hari ini, aku berdiri dipemakaman yang masih basah, dengan nama Diandra
terpampang disana. Akhirnya laki-laki tampan itu menyerah akan nasibnya
dan nasib apa yang kugantungkan
dihadapan sebuah nama yang pernah membuat hari-hariku penuh warna ini, memasuki
dunia yang sebelumnya tak pernah mampu kujamah oleh akal sehatku, penyesalankah?.
Namun
tidakkah keluargaku hidup berkecukupan dikampung sana, hidup terjamin dari uang
yang dikirimkan Diandra untuk memenuhi kebutuhan mereka. Tidak kupikir ini
adalah jalanku, yang suka tak suka telah menjadi garis takdirku. Tidak ini
bukan takdir tapi kebodohanku yang tak mampu keluar dari masalah hidupku
sendiri. Semoga Tuhan mengampuniku...
****
(dalam sebuah buku berjudul: Minority, penulis: Erlina Puji Lestari)
Komentar
Posting Komentar