Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Maret, 2015

RESAHKU

Hatiku kelabu...sedu sedan itu melaraku Kucoba berpikir tentang kita Dan setiap harapan yang terkandung  nyata Resahku membaur dalam kelu Tak mampu berkata, khawatir akan mencemaskanmu Tuhan itu ada diantara kita Ia nyaris selalu terjaga Saat aku tak mampu mengawasimu  Dengan kedua mata ini Kuyakin Dia kan menggantikanku Saat aku tak mampu menggenggam tanganmu Untuk sekedar menuntunmu ke arah yang kau tuju Kutahu Dia pasti menuntunmu Menggantikan genggaman tangan yang tak mampu kuberikan Sebagai penguat hatimu... Sayang...aku mendekapmu dengan kalbuku Dan akan selalu begitu Ingatlah apa yang kau mau Disetiap lafaz yang membiaskan senyum diwajahmu Dalam kungkungan do'a-do'a itu, semoga Tuhan menjagamu...

my imagination

my lovely

FIKSI MINI; TOPENG

Langkah kakinya pelan namun pasti membelah jalanan yang ramai sesak oleh manusia, ia menggunakan jubah berwarna gelap dengan bercak-bercak noda tanah disisi bawahnya, wajahnya tertutup oleh penutup kepala yang berasal dari sweater berwarna biru navy didalam jubah yang digunakan, hingga menutupi permukaan licin diwajahnya, tiada yang tahu dengan pasti, serupa apa wajah sipemilik jubah itu. Malam itu Desember hari ke tujuh, dengan mendung tampak menggantung dan sesekali nampak pula kilatan-kilatan membelah langit. Namun hal itu tak membuat  langkah kakinya menjadi surut, terkadang ia menginjak genangan air dijalan yang dilaluinya , langkah itu semakin cepat...cepat dan cepat,  tak sesekali ia menabrak seseorang, dan harus berhenti membungkuk memohon maaf tanpa bicara sepatah katapun. Hingga ia menghentikan langkah kakinya tepat didepan sebuah gedung. tiba-tiba angin keras menghembus menyibak penutup kepala orang berjubah itu, maka menyembullah sebuah topeng berukir diwa...

Aku dan purnama

Tidakkah  purnama itu terlihat begitu lembut Dengan keindahan pancaran cahayanya Dalam pekat malam nyaris tanpa bintang Dan taukah kamu... Aku tersenyum saat memandangnya Dan kutemukan makna damai bersama Walaupun tanpa kata... Hanya serupa pendaran cahaya yang mampu merangkul hati dengan begitu sempurna.... Kubertanya lirih...entah pada siapa Tak bisakah duniaku seperti purnama disana???

AROGAN

kubuang jauh tiap inchi tatapanmu yang seolah menelanjangiku hei...tiada guna itu, kau yang memenuhi pikiranmu dengan esensi hadirku yang menurutmu seyogya pelangi memberikan warna untuk hidupmu... kau yang mulai tinggikan aku pun kau yang mulai melemparku dalam nista yang sama kau salah lagi menilaiku untuk kali kedua saat kau coba ikat aku dengan aroma gilamu justru aku seolah plagiat yang akan menyesatkan jalanmu... kubuang tiap norma yang tercipta, seolah  sampah dalam jiwa saat kau bangkitkan tiap gejolakmu, seiring dengan itu kau telah membunuh hidupmu karena aku adalah si arogansi perwujudan egomu dan ikrar yang kau lafazkan dalam diam itu terbakar habis meninggalkan sisa abu yang tak terjamah waktu