Langsung ke konten utama

FIKSI MINI; TOPENG

Langkah kakinya pelan namun pasti membelah jalanan yang ramai sesak oleh manusia, ia menggunakan jubah berwarna gelap dengan bercak-bercak noda tanah disisi bawahnya, wajahnya tertutup oleh penutup kepala yang berasal dari sweater berwarna biru navy didalam jubah yang digunakan, hingga menutupi permukaan licin diwajahnya, tiada yang tahu dengan pasti, serupa apa wajah sipemilik jubah itu.

Malam itu Desember hari ke tujuh, dengan mendung tampak menggantung dan sesekali nampak pula kilatan-kilatan membelah langit. Namun hal itu tak membuat  langkah kakinya menjadi surut, terkadang ia menginjak genangan air dijalan yang dilaluinya, langkah itu semakin cepat...cepat dan cepat,  tak sesekali ia menabrak seseorang, dan harus berhenti membungkuk memohon maaf tanpa bicara sepatah katapun.

Hingga ia menghentikan langkah kakinya tepat didepan sebuah gedung. tiba-tiba angin keras menghembus menyibak penutup kepala orang berjubah itu, maka menyembullah sebuah topeng berukir diwajahnya, topeng itu penuh seringai, membuat beberapa orang serta merta berhenti hanya untuk sekedar memandang,ngeri. Nyata sekali bahwa topeng itu mengganggu penglihatan mereka, hingga mereka memutuskan untuk berlalu.

       "Akhirnya kau datang juga," seorang laki-laki berdiri tegak disamping si pemakai topeng. membuat serta-merta orang dengan topeng aneh berbalik, lalu tanpa mengucapkan sepatah katapun pergi berlalu masuk kedalam gedung diikuti oleh laki-laki tersebut.

            "Cukup...," Laki-laki itu menarik tangan orang dengan topeng aneh dan berjubah gelap.
            "Lepaskan...kau menyakitiku," Jawab si pemakai topeng.
            "Kenapa kau lakukan itu?,"
            "Kenapa?...,"
       "Kau membuatku seolah bodoh dan tak berguna dihadapanmu?," Laki-laki itu menatap si pemakai topeng tajam.
            "Kau memang orang bodoh yang tak tahu malu,"
           "Cukup...berhenti bicara, dasar orang tak punya hati. Bagaimana mungkin kau tega melakukan itu,"
           Terdengar suara seringai dari balik wajah orang bertopeng,"Aku lakukan apa yang kusuka, kau tahu aku tak mungkin menggantungkan hidupku pada orang seperti kamu,"
           "Cukup...,"
           "Kenapa? kau tak suka? baguslah agar kau bisa merasakan bagaimana rasanya dipecundangi,"
           "Kau....,"
           "Kau marah?, lalu apa yang akan kau lakukan," 
         "Keterlaluan," Dilemparnya tubuh orang bertopeng itu hingga ia terjerembab dilantai gedung yang lembab, topengnya serta merta terlepas dari wajahnya, nampak wajah cantik menyembul disana dengan polesan mempesona.
             "Kamuuuu...puas!!," lantang suara perempuan itu terdengar sambil bangkit dari lantai.
             "Kamu perempuan gila...kau buang darah daging kita,"teriak laki-laki itu lebih lantang.
         "Kenapa...? ya... tentu saja aku gila, dan kamu...kamu...kemana kamu saat aku mengandungnya, betapa aku memohon belas kasihmu, dan kamu tak mengakuinya...hahahaaaa...sekarang kamu bilang aku gila karena aku membunuhnya,"
           "Tapi itu anak kita...,"
           "Bukaaan anak kita..., camkan itu," Suara wanita itu tergetar," Dia anakku...hanya aku, aku yang melahirkannya,"

            "Dengarkan aku, katakan padaku dimana anak kita?,"
            "Kau laki-laki tak tahu malu, sampai mati aku membencimu. Lupakan tentang anak itu,"
            "Shandy...," laki-laki itu melunak,"Aku akan menikahimu, dan kita akan bahagia,"
            "Pernikahan itu takkan pernah ada, karena kau sudah lama mati bagiku," Ujar wanita itu dingin.
           "Tapi Shandy,aku akan pastikan akan menjadi suami yang baik untukmu dan ayah yang baik untuk anak kita,"
             "anak itu sudah mati. jadi kau tak perlu tanyakan apapun lagi. Dan pertanggung jawaban itu, buang saja jauh dari otak tumpulmu, karna aku takkan sudi melihatmu bahkan dalam mimpiku," ujar perempuan itu sambil berlalu.

Kembali ia berjalan terseok, sambil beberapa butiran air mata mengalir diwajahnya, hujanpun mulai turun, bersama resah hati seorang wanita, yang dengan sebuah topeng diwajah bisa membuat dunia tertegun.

            
                  
       

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MINORITY

                                                       Taman pemakaman itu nampak sepi, beberapa baris batu nisan berjejer dibawah  pohon kamboja dengan bunga-bunganya yang berwarna putih bersih, nampak beberapa helai kuntumnya terbang tertiup angin dan mendarat diatas makam ataupun tanah-tanah kosong yang ditumbuhi beberapa pohon puring berjenis oscar yang memiliki daun besar dengan kombinasi hijau kuning dimana warna kuningnya lebih dominan itu. Selain itu, beberapa tanaman andong-pun tumbuh disana, daunnya yang panjang dan agak besar dengan warnanya yang merah tua dan bersalur hijau tua nampak berdebu. Kesunyian dalam areal pemakaman itu, memberikan makna berbeda, walaupun disiang hari yang begitu terik. Bahwasanya,  ini adalah tempat dimana kau akan membaringkan tubuhmu, dibawah gundukan tanah bersama cacing-cacing yang kelapara...

BUNGA BUNGUR

BUNGA BUNGUR Bunga bungur Ditatap sayu oleh wanita tua Dari balik jendela kusam Bunga bungur tetap indah dalam penglihatannya Yang mulai rabun dimakan usia Wanita tua merintih pelan Bunga bungur pelipur lara yang kelam Bunga bungur memberikannya keindahan Bunga bungur saksi air mata yang terbuang Ia yang telah membuatnya besar Namun iapun yang terlupakan.... ( Bogor- terkenang akan seseorang yg bersama menatap bunga bungur dari balik jendela...)

CURAHAN HATI SEORANG AYAH

                           Kamu...adalah bentuk dari bersatunya air maniku Dengan sel telur ibumu Atas dasar kebesaran cinta Dan perwujudan kasih sayang yang nyata Kamu...yang selalu kugantikan popoknya ditiap malammu Saat ibumu terlalu lelah Untuk  mengurusimu seharian Kamu...yang kuantar ditengah derasnya hujan Didalam pekatnya malam Dan kuteriakkan jangan tidur saya Kita masih dalam perjalanan Dan kamu, yang dipinang seorang lelaki Yang bahkan aku tak tahu apa yang akan ia goreskan dihatimu Seorang putri yang kurawat dengan ketulusan hatiku Dan dia, begitu mudah merusakmu Menjatuhkan air matamu Menyakiti jiwamu Lalu aku? Apa dosaku...sebagai seorang ayah Yang memberikan nafas untuk anak gadisnya Yang merawatnya Dan memberikan beberapa mantra Agar ia menjadi istri yang luar biasa... # Ungkapan nelangsa seorang ayah untuk putrinya...