Langkah kakinya pelan namun pasti membelah jalanan yang ramai sesak oleh manusia, ia menggunakan jubah berwarna gelap dengan bercak-bercak noda tanah disisi bawahnya, wajahnya tertutup oleh penutup kepala yang berasal dari sweater berwarna biru navy didalam jubah yang digunakan, hingga menutupi permukaan licin diwajahnya, tiada yang tahu dengan pasti, serupa apa wajah sipemilik jubah itu.
Malam itu Desember hari ke tujuh, dengan mendung tampak menggantung dan sesekali nampak pula kilatan-kilatan membelah langit. Namun hal itu tak membuat langkah kakinya menjadi surut, terkadang ia menginjak genangan air dijalan yang dilaluinya, langkah itu semakin cepat...cepat dan cepat, tak sesekali ia menabrak seseorang, dan harus berhenti membungkuk memohon maaf tanpa bicara sepatah katapun.
Hingga ia menghentikan langkah kakinya tepat didepan sebuah gedung. tiba-tiba angin keras menghembus menyibak penutup kepala orang berjubah itu, maka menyembullah sebuah topeng berukir diwajahnya, topeng itu penuh seringai, membuat beberapa orang serta merta berhenti hanya untuk sekedar memandang,ngeri. Nyata sekali bahwa topeng itu mengganggu penglihatan mereka, hingga mereka memutuskan untuk berlalu.
"Akhirnya kau datang juga," seorang laki-laki berdiri tegak disamping si pemakai topeng. membuat serta-merta orang dengan topeng aneh berbalik, lalu tanpa mengucapkan sepatah katapun pergi berlalu masuk kedalam gedung diikuti oleh laki-laki tersebut.
"Cukup...," Laki-laki itu menarik tangan orang dengan topeng aneh dan berjubah gelap.
"Lepaskan...kau menyakitiku," Jawab si pemakai topeng.
"Kenapa kau lakukan itu?,"
"Kenapa?...,"
"Kau membuatku seolah bodoh dan tak berguna dihadapanmu?," Laki-laki itu menatap si pemakai topeng tajam.
"Kau memang orang bodoh yang tak tahu malu,"
"Cukup...berhenti bicara, dasar orang tak punya hati. Bagaimana mungkin kau tega melakukan itu,"
Terdengar suara seringai dari balik wajah orang bertopeng,"Aku lakukan apa yang kusuka, kau tahu aku tak mungkin menggantungkan hidupku pada orang seperti kamu,"
"Cukup...,"
"Kenapa? kau tak suka? baguslah agar kau bisa merasakan bagaimana rasanya dipecundangi,"
"Kau....,"
"Kau marah?, lalu apa yang akan kau lakukan,"
"Keterlaluan," Dilemparnya tubuh orang bertopeng itu hingga ia terjerembab dilantai gedung yang lembab, topengnya serta merta terlepas dari wajahnya, nampak wajah cantik menyembul disana dengan polesan mempesona.
"Kamuuuu...puas!!," lantang suara perempuan itu terdengar sambil bangkit dari lantai.
"Kamu perempuan gila...kau buang darah daging kita,"teriak laki-laki itu lebih lantang.
"Kenapa...? ya... tentu saja aku gila, dan kamu...kamu...kemana kamu saat aku mengandungnya, betapa aku memohon belas kasihmu, dan kamu tak mengakuinya...hahahaaaa...sekarang kamu bilang aku gila karena aku membunuhnya,"
"Tapi itu anak kita...,"
"Bukaaan anak kita..., camkan itu," Suara wanita itu tergetar," Dia anakku...hanya aku, aku yang melahirkannya,"
"Dengarkan aku, katakan padaku dimana anak kita?,"
"Kau laki-laki tak tahu malu, sampai mati aku membencimu. Lupakan tentang anak itu,"
"Shandy...," laki-laki itu melunak,"Aku akan menikahimu, dan kita akan bahagia,"
"Pernikahan itu takkan pernah ada, karena kau sudah lama mati bagiku," Ujar wanita itu dingin.
"Tapi Shandy,aku akan pastikan akan menjadi suami yang baik untukmu dan ayah yang baik untuk anak kita,"
"anak itu sudah mati. jadi kau tak perlu tanyakan apapun lagi. Dan pertanggung jawaban itu, buang saja jauh dari otak tumpulmu, karna aku takkan sudi melihatmu bahkan dalam mimpiku," ujar perempuan itu sambil berlalu.
Kembali ia berjalan terseok, sambil beberapa butiran air mata mengalir diwajahnya, hujanpun mulai turun, bersama resah hati seorang wanita, yang dengan sebuah topeng diwajah bisa membuat dunia tertegun.
Terdengar suara seringai dari balik wajah orang bertopeng,"Aku lakukan apa yang kusuka, kau tahu aku tak mungkin menggantungkan hidupku pada orang seperti kamu,"
"Cukup...,"
"Kenapa? kau tak suka? baguslah agar kau bisa merasakan bagaimana rasanya dipecundangi,"
"Kau....,"
"Kau marah?, lalu apa yang akan kau lakukan,"
"Keterlaluan," Dilemparnya tubuh orang bertopeng itu hingga ia terjerembab dilantai gedung yang lembab, topengnya serta merta terlepas dari wajahnya, nampak wajah cantik menyembul disana dengan polesan mempesona.
"Kamuuuu...puas!!," lantang suara perempuan itu terdengar sambil bangkit dari lantai.
"Kamu perempuan gila...kau buang darah daging kita,"teriak laki-laki itu lebih lantang.
"Kenapa...? ya... tentu saja aku gila, dan kamu...kamu...kemana kamu saat aku mengandungnya, betapa aku memohon belas kasihmu, dan kamu tak mengakuinya...hahahaaaa...sekarang kamu bilang aku gila karena aku membunuhnya,"
"Tapi itu anak kita...,"
"Bukaaan anak kita..., camkan itu," Suara wanita itu tergetar," Dia anakku...hanya aku, aku yang melahirkannya,"
"Dengarkan aku, katakan padaku dimana anak kita?,"
"Kau laki-laki tak tahu malu, sampai mati aku membencimu. Lupakan tentang anak itu,"
"Shandy...," laki-laki itu melunak,"Aku akan menikahimu, dan kita akan bahagia,"
"Pernikahan itu takkan pernah ada, karena kau sudah lama mati bagiku," Ujar wanita itu dingin.
"Tapi Shandy,aku akan pastikan akan menjadi suami yang baik untukmu dan ayah yang baik untuk anak kita,"
"anak itu sudah mati. jadi kau tak perlu tanyakan apapun lagi. Dan pertanggung jawaban itu, buang saja jauh dari otak tumpulmu, karna aku takkan sudi melihatmu bahkan dalam mimpiku," ujar perempuan itu sambil berlalu.
Kembali ia berjalan terseok, sambil beberapa butiran air mata mengalir diwajahnya, hujanpun mulai turun, bersama resah hati seorang wanita, yang dengan sebuah topeng diwajah bisa membuat dunia tertegun.
Komentar
Posting Komentar