Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2019

Metamorfosis Sempurna

Aku mendekapnya Jauh dalam palung hatiku Bersama jejak malam yang bertabur bintang Bersama pendar cahaya senja yang menghilang Menyumpah serapah bait-bait cinta Yang dulu pernah dinukilkan Ah, kamu... Katakan padaku bagaimana kamu bermetamorfosis? Bangkit dalam kubangan cinta yang sakit? Baiklah Selagi kucoba ungkap detail metamorfosis sempurnamu Kau telah jabarkan dengan kalam jingga Yang hampir membuatku terpesona Bogor,15 /09/ 2019

PENANTIAN

Tabir itu tersingkap Wajah-wajah penat menyeruak Aku enggan berbisik Entah... Bahkan aku hilang kendali Ketika rapuh itu kau beri Sepersekian waktu Ya, kuharap kau ingat itu Kita ciptakan memoar-memoar Yang penuh debaran indah Benarkah? Kamu atau aku yang terlupa Dengan rasa yang tersisa? Penantian... Menilik kembali luka lama Ketika bauran dendam Mulai merobek tiap depa kerinduan Ah, aku menyerah Aku kalah... Baiklah... Mungkin aku diam Dan, kau... cukuplah menatapku dalam gamang Cinta itu? Apakah masih ada kau rasakan? 17 Juli 2019

Hadirmu

oleh: Erlina P. Lestari Berapa banyak waktu kubuang Hanya untuk menjaga sebuah hati Ia tak lapang Tak jua sempit Ia hanya segumpal darah Yang terus menerus mengeluarkan nanah Sayang, disinilah puncaknya Ketika kesabaranku habis tiada sisa Namun aku masih tetap berdiri di tempatku berada Menjadi berandamu, menjadi sandaranmu Ikhlaslah... Jerit batinku, mulai mendiskriminasi jiwa Sesungguhnya ia tak perlu lagi ada Bertrasformasi menjadi raja Ah, aku selalu berharap itu Sesungguhnya, sekujur jiwaku merapuh sudah Nyali-nyaliku menciut lelah Bahkan kau tahu Atau mungkin memang tak mau tahu Tapi, sudahlah... Toh, hadirmu kadang ciptakan lelah Memunculkan segumpal amarah Yang membuat sebagian jiwaku melara (epl) Pijakkanku, 26 Agustus 2019

Dalam Dekapan Jiwamu

(Erlina P. Lestari) Aku merendanya Ya, merenda hari-hari yang kulalui Bagaikan secuil mimpi Dan, aku mengiba karenanya Kekasih... Bahkan nama itu masih mampu ku ungkap Tanpa dalih apapun jua Tanpa hijab tersamar oleh gulana Benar! Akulah yang gundah... Melihat senja yang memerah Bahkan, seolah napasku terhenti di sana Tahukah kau seberapa redup jiwaku? Tahukah kau seberapa gilanya aku? Ya, nalarku mengejan Sebentar saja ia hilang akal Lalu mengendur perlahan Dalam dekapan jiwamu, sayang... ( Jiwa-jiwa sunyi- Bogor, 26 Agustus 2019)

MERENTAN HATI

(Erlina P.Lestari) Kemana perginya? Bait-bait puisi itu mencari suaka Hingga ilalang itu pun tunduk Berpaling pada mentari Walau hangatnya pagi memberinya setitik arti Lekas...lekaslah lari Menjauh... dan terus menjauh Agar rindumu mengabur Agar air matamu berhenti meluruh Merentan hati, hingga tak terkendali Akalmu, egomu Biarlah  kembali, membaur dengan sepi

Esensi Cinta

Esensi Cinta Oleh: Erlina P. Lesrari Mungkin, aku adalah bagian dari mereka yang kehilangan esensi cinta Dan sialnya, bagaimana aku bisa kehilangan Suatu hal yang berada pada ranah tertinggi Dalam terwujudnya peradaban manusia? Itu sebabnya aku suka menulis Menulis dan terus menulis Mengulik keniscayaan cinta Yang menghilang dari jati diri kefanaan raga Mungkin ia tidak selamanya hilang Ia hanya bersembunyi Mencari esensinya sendiri Mencari bentuknya sendiri ...dan cukuplah aku nikmati # 25.02.2019