oleh: Erlina P. Lestari Berapa banyak waktu kubuang Hanya untuk menjaga sebuah hati Ia tak lapang Tak jua sempit Ia hanya segumpal darah Yang terus menerus mengeluarkan nanah Sayang, disinilah puncaknya Ketika kesabaranku habis tiada sisa Namun aku masih tetap berdiri di tempatku berada Menjadi berandamu, menjadi sandaranmu Ikhlaslah... Jerit batinku, mulai mendiskriminasi jiwa Sesungguhnya ia tak perlu lagi ada Bertrasformasi menjadi raja Ah, aku selalu berharap itu Sesungguhnya, sekujur jiwaku merapuh sudah Nyali-nyaliku menciut lelah Bahkan kau tahu Atau mungkin memang tak mau tahu Tapi, sudahlah... Toh, hadirmu kadang ciptakan lelah Memunculkan segumpal amarah Yang membuat sebagian jiwaku melara (epl) Pijakkanku, 26 Agustus 2019
Menyearah dalam prosa