Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Oktober, 2014

Peri cinta

Tidakkah hari ini terlalu pagi untuk kita bergulat dengan waktu Aku mungkin akan menjadi si haicu yang tak berpikir Saat degub jantungku menegang Mengarah lembut dalam desirannya Menatap indah pesona yang berbalut nuansa merah muda Kau laksana sutra kemilau dengan jutaan pesona Meredam tiap bara merah hitam dalam dada Aku melepuh lusuh Mencari tiap orbit dan ribuan gugusan bintang Yang mengukir jutaan nukilan yang terpahat namamu Aku sebut dirimu peri cinta Bersamaan aroma surgawi yang menembus jiwa.....

SEBUAH SURAT UNTUK SANG RATU

Ratuku... aku merenung termangu merasakan kekosongan jiwa menohok dalam nurani yang hampa Ratuku... kau ingin pagiku seperti apa karna hangatnya mentari tak bisa lagi kurasa berganti dingin membekukan karsa Ratuku... kau ingin siangku seperti apa karna energi matahari tak bisa lagi kucerna berganti kelemahan yang membelenggu asa Ratuku... kau ingin soreku seperti apa karna indahnya senja tak lagi mampu kuterima hingga aku enggan bersamanya Dan Ratuku... kau ingin malamku bagaimana karna ternyata cahaya bulan tak mampu lagi menenangkan jiwa hingga aku enggan menatapnya Ratuku... mungkin aku takkan pernah menjadi sempurna namun kupastikan kukan membuatmu bangga akan kupenuhi semua yang kau pinta hingga kudapat kembali berharga dimata indahmu dinda... Ratuku... aku takkan pernah berharap engkau menjadi Fatimah Az-Zahra karna kau bukanlah dia Dan Ratuku... izinkanlah aku menggenggam kembali tanganmu dengan penu...

PAGIKU DAN SECANGKIR KOPI

Aku menggeliat panjang dari mimpi Merenda malam dengan kelelahan yang teramat sangat Namun mentariku menghapuskannya dengan cepat Adrenalinku kembali melesat Meninggalkan tiap kelelahan Ah....mungkin juga sedikit kekecewaan yang mendera Dan secangkir kenikmatan itu..... Kembali menjalar ditiap nadiku Pun menenangkan fikiran dan jiwaku....

My prose

MY PROSE~ ERLINA PUJI LESTARI 1.SEBUAH JIWA Sebuah jiwa itu bersembunyi Dalam pekatnya siluet malam Yang kadang hilang Namun kadang temaram Lukisan apa dibalik jubah gelapmu Andai kumampu melukiskan pekat itu Hingga terasir sebagian warna kelabu Yang terpancar dari auramu Kau tau kerinduanku Akan belaian do’a Hingga kudapatkan haruman surga Dan kau tahu mimpiku Yang akan mengikuti jalan setapak Dimana kakimu menuju Hingga kutemukan kata damai itu Muingkin seorang pemandu akan kehilangan petanya Atau justru jiwa ini yang kehilangan pemandunya Jiwa itu kugambarkan indah Bak siluet lembayung senja Dan aku dengan segala halusinasiku Mengikuti jejak bayangmu Yang kadang bersahabat namun kadang seolah seteru… Atau mungkin itu imajinasiku saja Yang khawatir kehilangan jejakmu… Sebuah jiwa itu tetap berdiri pongah Dengan keangkuhan yang  terpancar indah Seperti pelita penerang raga… Dan aku tersenyum karnanya… Kau dan kesom...