ini sesak...
dan aku tak ingin bersekutu dengannya
kali lain tatapan itu penuh intervensi
dan kali lain tatapan itu penuh cinta
kali kain tatapan mata itu penuh selidik
kenali aku lebih...
agar kau mengerti siapa aku
aku takkan berdaya dengan keadaan
tiada berdaya dengan kenyataan
hitam itu tabu
memekik disegala penjuru
langkah kaki menyeret berat
dan hati ini menghardik cepat
kamu...berikan lukisan hitam dalam setiap langkah
sedangkan aku ingin rangkaian putih
dalam tiap goresan kanvas hidup itu
biar tak berwarna tak mengapa
asal aku bisa bahagia dan menyium aroma surga
aku inginkan seorang pemandu
yang mengikat kontrak hidup padaku
bukan orang lain yang mengenalku
seorang pemandu takkan pernah kehilangan peta
namun seorang turis bisa saja kehilangan pemandunya
bersorak wajahku
memekik hatiku
beban yang ditimpakan terlalu berat kurasa
hingga sulit bagiku tuk bangkit melawannya
surga itu dimana?
aku rindu aromanya
semua menyeret jauh tak terkendali
dan sebuah jiwa itu membiarkanku hingga tenggelam
baru mencoba menarikku kencang
berdo'alah semoga saja tarikan itu tepat pada waktunya
atau aku benar-benar habis terseret ombaknya
ini sebuah nukilan kelam atau apa
pencarian esensi hidup dengan meraba segalanya
tak mungkin ku bungkamkan segala retorika
sesungguhnya ku marah dengan dunia
yang membuatku jungkir balik sedemikian rupa
mereka datang silih berganti dengan genggaman tangannya
erat penuh makna
mencoba mengamini tiap realita dan menguatkan jiwa
agar kutak payah didalamnya
namun apa?
tetap saja kuinginkan surga
karna itu tujuan hidup manusia
surga dunia hanya melenakan saja
sungguh aku gila dengan ketakutanku
dan aku tak ingin berakhir dengan seperti itu
apapun alasannya aku ingin surga
tak ingin kumati dalam nestapa dan kengerian panjang
yang menggila
Tuhan Maha Tahu...
saat aku berteriak,
dengan segala kelelahanku
saat aku memekik
dengan segala hal asing yang kutemui
dan aku ingin sekali memaksa-Nya
hanya untuk sekedar mengartikan semua
aku terlalu dungu dan buta
untuk meraba segalanya
dan membaca semuanya
Tuhan Maha Luas
bagaimanapun bentuk ujian-Mu
aku tetap ingin memekik....
Tuhan aku lelah
sudahi ini...permainan nasib yang tak sepi
aku meratap menghardik...
salah...
akal sehatku kembali bekerja
hingga aku bersimpuh manja
menguatkan hati dan berkata
aku patut menerima ini semua Tuhan
karna aku selalau percaya,
orang baik akan bersama orang baik pula
dan aku belum baik dengan semuanya
lagi aku mengiba
lakukanlah semua kehendakmu Tuhan
kalau itu akan menjadikanku sebuah mutiara...
dan hadiahkan aku kelak sebuah mutiara pula
karna mungkin ku akan dapatkan surgaku disana.....
Komentar
Posting Komentar