MY PROSE~ ERLINA PUJI LESTARI
1.SEBUAH JIWA
Sebuah jiwa itu bersembunyi
Dalam pekatnya siluet malam
Yang kadang hilang
Namun kadang temaram
Lukisan apa dibalik jubah gelapmu
Andai kumampu melukiskan pekat itu
Hingga terasir sebagian warna kelabu
Yang terpancar dari auramu
Kau tau kerinduanku
Akan belaian do’a
Hingga kudapatkan haruman surga
Dan kau tahu mimpiku
Yang akan mengikuti jalan setapak
Dimana kakimu menuju
Hingga kutemukan kata damai itu
Muingkin seorang pemandu akan kehilangan petanya
Atau justru jiwa ini yang kehilangan pemandunya
Jiwa itu kugambarkan indah
Bak siluet lembayung senja
Dan aku dengan segala halusinasiku
Mengikuti jejak bayangmu
Yang kadang bersahabat namun kadang seolah seteru…
Atau mungkin itu imajinasiku saja
Yang khawatir kehilangan jejakmu…
Sebuah jiwa itu tetap berdiri pongah
Dengan keangkuhan yang
terpancar indah
Seperti pelita penerang raga…
Dan aku tersenyum karnanya…
Kau dan kesombonganmu kusuka….
2.PROSA CINTA
Berdirilah disini…
Dihadapanku…
Jangan terlalu jauh cukup sejengkal saja
Berilah jarak antara kita
Agar kubisa menikmati
Tatapan lembut yang meruntuhkan hatiku
Aku menyentuhmu…dengan tanganku
Tepat didadamu…ya disana
Pegitu pelan…
Dan kau…sentuhlah tanganku yang menyentuhmu…
Rasakan dengan lembut dan tataplah aku dalam
Karna kukan berbisik lembut padamu
Hatimu apakah seindah parasmu
Hatimu apakah sesempurna pahatan Rabb-ku
Aku menanti jawabmu
Duhai pangeran tampanku
Karna kau haruslah tahu
Takkan kugantungkan hidupku
Menjadi lebih nelangsa karna memujamu….
3.LAKON CINTA
Aku menanam cinta dalam bejana emas
Dimana kukan rangkai tiap bilur-bilurnya
Aku terlena dalam indahnya
Mencoba menutup mata, mulut dan telinga
Kutampik setiap luka
Kutampik setiap derita
Tuhan…aku jatuh cinta
Dengan demikian dasyatnya
Tidakkah bulan gerhana itu menari dalam hatiku
Yang pijarnya begitu terang
Bermain dikalbu
Aku terlupa…sangat terlupa
Yang kutahu aku bahagia
Dengan ribuan
tanda tanya
Apa beginikan cinta ?
4 4. . NUANSA JINGGA
Pagi ini sebuah senandung kumainkan
Walau terasa sumbang hentakannya
Namun kubisa pastikan warnanya
Kebebasan berakar dalam damai
Mencicipi setiap asa yang terhempas karam
Aku suka hidupku
Ceria memenuhi rongganya
Tak pernah ada kehampaan pun kecewa
Masa itu nyata berpendar-pendar
Bak kunang-kunang dibawah sinar bulan….
Bersamanya…
Ku indahkan sebuah warna jingga
Tuhan…aksara cinta ini kurajut indah
Sulamanan emasnya berpendar cerah…
Cinta itu memberi warna
Dengan siluet-siluet berupa cerita
Dan kau tahu…
Kututup mata, mulut juga telinga
Tak kuhiraukan segala cerca
Karna kutahu aku cinta dia….
5. CINTA
INI MEMBINGUNGKAN
Gambaran cinta itu seperti apa
Yang dilukis oleh pena- pena
Dan diwarnai oleh cat bernuansa jingga
Seseorang berkata
Andai aku seorang pujangga
Aku akan tuliskan tiap bait namamu dengan penaku dalam tiap syairnya
Andaiku seorang penyanyi
Kan kunyanyikan lagu yang menyebut namamu selalu
Aku akan tuliskan tiap bait namamu dengan penaku dalam tiap syairnya
Andaiku seorang penyanyi
Kan kunyanyikan lagu yang menyebut namamu selalu
Cinta itu bak tiara indah dikepala wanita
Ucapan penuh khidman dalam tiap lafaznya
Cinta itu bara dingin yang menguasai jiwa
Dan membelenggunya pelan dalam nestapa yang panjang
6.
SURAT UNTUK RABB-KU
Ya Rabb...sedikit aku
berbisik
Karna ku tahu ini akan
menjadi rahasia kita....
Ya Rabb aku bisa
sedikit menatap- Mu
Dibalik mentari pagi
ini
Dan aku bisa merasakan kuasa-Mu
Dibalik ketenangan hati
Sebuah keteguhan membuat seseorang mampu berdiri bukan?
Dan kau ciptakan hatiku seperti apa?
Kau tak pernah mengetuknya pelan atas cobaan...
Namun yang Kau berikan sebuah tikaman
Yang secepat kilat mampu menyadarkanku....
Dan aku nikmati itu Ya Rabb-ku
Kali ini aku berbisik dan terus berbisik pada-Mu
Dan ini akan jadi rahasia kita...
Ku nikmati apa yang menjadi jalanku
Tapi satu hal....
Teguhkanlah pendirianku...
Dan aku bisa merasakan kuasa-Mu
Dibalik ketenangan hati
Sebuah keteguhan membuat seseorang mampu berdiri bukan?
Dan kau ciptakan hatiku seperti apa?
Kau tak pernah mengetuknya pelan atas cobaan...
Namun yang Kau berikan sebuah tikaman
Yang secepat kilat mampu menyadarkanku....
Dan aku nikmati itu Ya Rabb-ku
Kali ini aku berbisik dan terus berbisik pada-Mu
Dan ini akan jadi rahasia kita...
Ku nikmati apa yang menjadi jalanku
Tapi satu hal....
Teguhkanlah pendirianku...
7. SEBUAH
KATA KECEWA
Dan aku kecewa
Pada rembulan yang terlihat memucat
Aku kecewa
Pada kelamnya langit nan pekat
Aku kecewa
Pada dunia kelabui semu membisu
Nukilan yang kau pahat
Bak mantra gila yang menohok hati
Pelan namun pasti
Kau matikan tiap arteri
Kau tikam habis segala ambisi
Biar tatapanku kosong tak mengapa
Biar dunia memandangku gila
Aku tak peduli
Manusia ingin bahagia itulah fakta
Kau buatku tertekan sedemikian rupa
Itulah nyata
Aku tak berharap lebih
Cukup kenallah aku
Agar kau mampu merangkulku
8. TERJAGAKU
DARI ASA
Aku terjaga dari sesuatu yang meresahkan
Telah kubungkam bara itu
Dalam bejana yang akhirnya terpunahkan
Sesak berandai-andai
Dalam bait-bait aksara yang tergilas waktu
Remehkan sangsi
Aku terdiam menerawang senja
Dengan setengah ingatan yang hilang timbul
Berharap amnesia itu ada
Dan kandaskan tiap asa
Hingga terbang menjauhi semesta
9. SANG
RAJA
Andai aku seorang ratu
Maka akukan bertanya padamu
Duhai rajaku…
Tahta seperti apa yang kau sandera dalam fikiranmu
Hingga kau lambungkan sebuah khayal
Yang melampaui semesta
Aku bertanya padamu
Duhai Rajaku
Selir seperti apa yang merajai hatimu
Hingga kedudukan sang ratu
Kau anggap sebagai hiasan singgasana saja
Bukankah karna itu kedudukan selir lebih berharga
Aku akan bertanya padamu
Duhai rajaku…
Putra mahkota seperti apa yang kau siapkan
sebagai penerusmu
Hingga kau merasa telah melakukan segalanya
Padahal yang kulihat
Tak ubahnya bak sebuah arca
Kau diam tak melakukan apa-apa
Duhai rajaku…disanalah tahtamu
Dan engkau rajaku
Tidakkah dua hal itu membuat congkak hatimu?
Dan menghilangkan sebagian akal sehatmu?
Hanya kau dan Tuhan yang tahu…
10.
RETORIKA SEMU
Halau dengan air mata semua itu
Beberapa bait kepalsuan terukir disana
Kau wanita yang berwajah nista
Bungkam dalam kebohongan yang berkarat
Aku terdiam
Dengan sudut pandang yang berguguran
Bukan bak sakura yang indah terpampang
Namun lebih seperti ribuan burung mayar
Yang trengginas terbang
Tatap mata itu bengis
Menyapu sadis
Berharap menemukan kebenaran yang tersamar
Dalam kelam
Warna yang kau tabur itu bukanlah bintang
Atau ribuan kunang-kunang
Namun tidak lebih bagai onggokan sampah
Dalam pembuangannya
Wanita itu…
Memberi dasar nyata kehidupan
Bahwasanya cinta itu adalah kesenangan
Dan kau memainkan peran itu
Dengan begitu gamblang
Atas nama cinta yang kau kelamkan
Atas nama cinta yang kau bekukan
Dan atas nama cinta
Akulah yang bungkam….
11.
HILANG
setiap depa
perwujudan rasa itu
raib entah kemana,
tak perlulah kau tanya kesalahanmu,
ataukah diriku
bahkan cermin yang retak itupun
tak bisa lagi menjadi saksi
semua menyisakan kebisuan
dimalam-malam terakhir kebersamaan kita,
yang hampir tiada harapan lagi
bahkan nyaris tiada cerita lagi
mawarku menghitam, laksana langit yang kelam
pelitaku menghilang....
rajah yang tersimpan bak hilang ingatan
diamku bergemuruh, namun tak berarti
bara didada gugur menghujam bumi
aku terdiam namun tak mati...
perih...pedih...kurasai sendiri
apa yang bisa kuraih, tanganku menggapai
tapi pasrah berdiri
aku terkulai namun pikiranku berlari
hidupku bimbang dalam kehilangan
kau telah suntingkan asa
yang tak terbilang....
ataukah diriku
bahkan cermin yang retak itupun
tak bisa lagi menjadi saksi
semua menyisakan kebisuan
dimalam-malam terakhir kebersamaan kita,
yang hampir tiada harapan lagi
bahkan nyaris tiada cerita lagi
mawarku menghitam, laksana langit yang kelam
pelitaku menghilang....
rajah yang tersimpan bak hilang ingatan
diamku bergemuruh, namun tak berarti
bara didada gugur menghujam bumi
aku terdiam namun tak mati...
perih...pedih...kurasai sendiri
apa yang bisa kuraih, tanganku menggapai
tapi pasrah berdiri
aku terkulai namun pikiranku berlari
hidupku bimbang dalam kehilangan
kau telah suntingkan asa
yang tak terbilang....
12.
DAN ITU AKU
Aku mungkin sebuah cela
Yang mengukir tak ramah
Membelenggu sukma
Aku mungkin seonggok debu
Yang menyebar tak tentu
Dan membuat resah kalbu
Bijaklah berpikir nyonya yang ramah
Aku tak kan pernah menjadi sempurna
Namun aku ingin mengendalikan semua agar tiada cacat dan cela
Sekali saja....sekali saja kau berpikir tuk menjadi aku
Merasakan tiap beban beratku
Merasakan tiap seretan langkahku
Celaan itu tak pernah indah didengar
Tapi cambuk yang kuat untuk membuatku bertahan
Gugurnya bunga dimusim ini
Takkan membuatku berhenti
Musim semi yang indah takkan membuatku terpaku mati
Dan badai yang datang takkan membuatku berlari pergi
Akukan rentangkan tanganku jauh
Hinggaku tembus batas waktu
Walau tak pernah kutau pasti
Kapan waktukan berhenti
Dan membuat resah kalbu
Bijaklah berpikir nyonya yang ramah
Aku tak kan pernah menjadi sempurna
Namun aku ingin mengendalikan semua agar tiada cacat dan cela
Sekali saja....sekali saja kau berpikir tuk menjadi aku
Merasakan tiap beban beratku
Merasakan tiap seretan langkahku
Celaan itu tak pernah indah didengar
Tapi cambuk yang kuat untuk membuatku bertahan
Gugurnya bunga dimusim ini
Takkan membuatku berhenti
Musim semi yang indah takkan membuatku terpaku mati
Dan badai yang datang takkan membuatku berlari pergi
Akukan rentangkan tanganku jauh
Hinggaku tembus batas waktu
Walau tak pernah kutau pasti
Kapan waktukan berhenti
13.
SEBUAH TAKDIR
YANG MELARA
hari ini aku menangis...
menatap kosong dalam diamku
entah karna buruk nasibku
atau salahnya takdirku
yang nyerinya terasa menohok tiap relung hati
dan menyusup sadis dalam sanubari
kecintaan apa yang kau punya,
begitu dasyatnya melukai jiwa
pelan tapi pasti
satu persatu luluh lantah jatuh kebumi
kau ingin embun dipagi hari juga mentari
yang menyinari
kau ingin energi cahya matahari
pun indahnya pelangi
embun apa yang kau mau, mentaripun bungkam membisu
cahaya matahari mengabur muram
pelangipun enggan datang
takdir kita mungkin tak sama
atau mungkin kita yang melara
langit dan bumi itu jelas berbeda
tak bisa kau paksakan untuk sekata
bila rasa itu tak lagi ada
tak bisa kau harapkan untuk mengiba
bila lara kian mendera
aku diam hanya untukmu...
walaupun akhirnya kau anggap bisu....
dan menyusup sadis dalam sanubari
kecintaan apa yang kau punya,
begitu dasyatnya melukai jiwa
pelan tapi pasti
satu persatu luluh lantah jatuh kebumi
kau ingin embun dipagi hari juga mentari
yang menyinari
kau ingin energi cahya matahari
pun indahnya pelangi
embun apa yang kau mau, mentaripun bungkam membisu
cahaya matahari mengabur muram
pelangipun enggan datang
takdir kita mungkin tak sama
atau mungkin kita yang melara
langit dan bumi itu jelas berbeda
tak bisa kau paksakan untuk sekata
bila rasa itu tak lagi ada
tak bisa kau harapkan untuk mengiba
bila lara kian mendera
aku diam hanya untukmu...
walaupun akhirnya kau anggap bisu....
14.
HIDUP DAN
LUKISAN KELABU
Kau tau....
Seseorang berujar padaku
Ah tidak kufikir ini imajinasinya saja
Atau kelugasan fikiran yang berkawinkan dengan realita
Hidupku itu indah
Bak pelangi penuh warna
Kedewasaan itu dapat terbaca dengan tegas
Dan topeng yang tertanam itu
Seolah siluet bayangan kelam
Yang kan gugur dimusim penghujan
Atau kelugasan fikiran yang berkawinkan dengan realita
Hidupku itu indah
Bak pelangi penuh warna
Kedewasaan itu dapat terbaca dengan tegas
Dan topeng yang tertanam itu
Seolah siluet bayangan kelam
Yang kan gugur dimusim penghujan
Aku menatap tak percaya
Realita adalah fakta yang terungkap
Dan ia lebih tegas dari dunia maya
Dimana seseorang harus meraba tiap gambarannya
Seolah tuna netra bersama huruf brailenya
Dan aku tak memilih itu
Hidup dengan lukisan kelabu yang tegas
Antara paduan hitam dan putih yang terarsir tak rapi
Dan aku nikmati tiap arsiran itu
Pelan namun pasti
Dan menghapusnya sendiri
Bila ku mulai jenuh dengan arogansi warnanya
Ini zona nyaman tuan tapi tak pernah aman
Gemuruh itu selalu ada,
Yang akan diakhiri
Oleh hujan pada penutupnya
15.
AKU DAN HUJAN PAGI INI
Aku akan merasakan tiap rintiknya
Yang menyusup dalam tiap pori- pori
Aku merasakan dinginnya
Yang membekukan tiap rasa
Namun mendinginkan kepala
Aku bisa mengadu pun bisa menangis dibawahnya
Dan mencuri tiap fatamorgana yang diciptakannya
Hujan itu akhir dari penantian
Saat sang awan berat menahan beban....
Aku bisa mengadu pun bisa menangis dibawahnya
Dan mencuri tiap fatamorgana yang diciptakannya
Hujan itu akhir dari penantian
Saat sang awan berat menahan beban....
16.
PASRAHKU
Kau tahu rasanya seperti apa
Hawa panas itu menjalar melalui
Tiap lumbal...
Merangkak naik hingga kekepala,
Dan sesaknya....?
Kau tahu seperti apa?
Seolah leherku tercekik dan pita suaraku tercekat serak.....
Terlalu sering....dan aku menyerah kalah....
Waktu...ya...sang waktu...
Aku tak mungkin gantungkan asaku padanya
Terlalu jauh kurasa
Aku mulai mengiba pada nuraniku sendiri
Aku mulai mengiba pada hatiku sendiri
Yang kadang utuh lalu pecah
Utuh dan terpecah lagi
Lihat dirimu dan pikiran yang berputar dibenakmu
Cukuplah aku pahami sepersekian saja...
Aku yang selalu bernegosiasi dengan waktu
Memilih diam sambil memainkan lagu syahdu....
Walau kurasa terlalu naif
Tapi ku yakin itulah yang terbaik...
Kau tahu seperti apa?
Seolah leherku tercekik dan pita suaraku tercekat serak.....
Terlalu sering....dan aku menyerah kalah....
Waktu...ya...sang waktu...
Aku tak mungkin gantungkan asaku padanya
Terlalu jauh kurasa
Aku mulai mengiba pada nuraniku sendiri
Aku mulai mengiba pada hatiku sendiri
Yang kadang utuh lalu pecah
Utuh dan terpecah lagi
Lihat dirimu dan pikiran yang berputar dibenakmu
Cukuplah aku pahami sepersekian saja...
Aku yang selalu bernegosiasi dengan waktu
Memilih diam sambil memainkan lagu syahdu....
Walau kurasa terlalu naif
Tapi ku yakin itulah yang terbaik...
17.
SANG WAKTU
Lihat ia mempermainkanku lagi
Dengan keindahan dan ke eksotikannya
Membuatku bertanya
Apalagi yang kau berikan padaku
Tapi Sang waktu itu enggan ditanya
Seolah pengemudi yang menggiring
Sesukanya ia berlari
Aku tersenyum lagi dan lagi
Memikirkan keajaiban apa yang bisa kutemukan tuk kesekian kali
Atau justru badai ujian yang membuatku terpuruk dan mati
Apalagi yang kau berikan padaku
Tapi Sang waktu itu enggan ditanya
Seolah pengemudi yang menggiring
Sesukanya ia berlari
Aku tersenyum lagi dan lagi
Memikirkan keajaiban apa yang bisa kutemukan tuk kesekian kali
Atau justru badai ujian yang membuatku terpuruk dan mati
Ah.....sang waktu itu hanya membelengguku
Menjadikan kuhebat sebagai diriku
Mungkin suatu saat ia akan menatapku
Dan menghentikan tiap permainannya
Yang digantikan dengan ribuan bunga
Hingga membuatku mampu untuk tersenyum bahagia
18.
SENJAKU DAN SEBAIT RINDU
Aku kembali mengadu
Pada sang fajar yang sebentar saja berlalu
Pada mentari yang tersipu malu- malu
Pada matahari yang memberi energi baru
Aku kembali mengadu
Tentang hidup yang penuh harapan baru
Pada bayangan yang tampak semu
Pada angin yang sebentar mencumbu
Pada logika yang selalu terpaku
Tentang hidup yang penuh harapan baru
Pada bayangan yang tampak semu
Pada angin yang sebentar mencumbu
Pada logika yang selalu terpaku
Aku mendengar, merasa dan membau
Tiap semerbak aroma itu
Tiap bisikan celoteh itu
Dan juga tiap halusnya genggaman itu
Dan aku.....
Yang di pagi ini
Menyerah melawan hari
Membiarkan ego terlena dalam sepi
Mencoba merangkai mimpi
Sesaat....hanya sesaat...
Lalu kucoba mulai lontarkan
Sebait rindu...
Walau kudengar terasa kaku....
19.
AKU, KAMU DAN SECANGKIR KOPI KITA
hai...teman
pagi ini kukan bisikan sebuah mantra
dengan secangkir kopi dihadapan kita,
yang entah akan menjadi saksi atau apa
bicara kita ini rahasia
hanya kau yang kupercaya
ini tentang cinta, masa dan tiap peristiwa
yang telah kugaris bawahi, tentunya untuk kita berdua
kau dan aku....
entah suatu hari saat kebimbangan melanda hati kita
dan kita saling berseteru karna amarah membara
berjanjilah rahasia ini akan tetap kau jaga
atau mungkin saat kita mulai dipenuhi bara asmara
genggam rahasia ini seperti semula
kau dan aku...
hanya kita berdua yang tahu.....
hanya kau yang kupercaya
ini tentang cinta, masa dan tiap peristiwa
yang telah kugaris bawahi, tentunya untuk kita berdua
kau dan aku....
entah suatu hari saat kebimbangan melanda hati kita
dan kita saling berseteru karna amarah membara
berjanjilah rahasia ini akan tetap kau jaga
atau mungkin saat kita mulai dipenuhi bara asmara
genggam rahasia ini seperti semula
kau dan aku...
hanya kita berdua yang tahu.....
20.
SOULMATE
Mari sedikit kubercerita
Tentang belahan jiwa
Yang merangkul dalam diamnya
Yang menguatkan tanpa wicara
Yang menenangkan setiap makna
Yang menyisakan senyum bahagia...
Mari sedikit kuberkata
Belahan jiwa itu ada
Kekal dalam jiwa dan raga
Tak mudah terganti walau kadang sesak melanda
Tak mudah dielakkan karna genggamannya begitu nyata...
Dan belahan jiwa itu....
Laksana mentari dipagi hari
Menjadi energi disiang hari
Dan pencipta mimpi indah di malam hari
Yang menyisakan senyum bahagia...
Mari sedikit kuberkata
Belahan jiwa itu ada
Kekal dalam jiwa dan raga
Tak mudah terganti walau kadang sesak melanda
Tak mudah dielakkan karna genggamannya begitu nyata...
Dan belahan jiwa itu....
Laksana mentari dipagi hari
Menjadi energi disiang hari
Dan pencipta mimpi indah di malam hari
21.
INI EGO ATAU
APA
Aku goreskan tiap warna itu
Dalam selembar kertas kusam
Dimana aku terjatuh dalam kebimbangan
Langkah kakiku berat
Walaupunku tau kau coba memapahnya dalam sebuah
ilusi yang berwarna jingga
Bara dalam dada yang kadang padam kadang menyala
Dengan pijarnya
Membuatku terlena dalam kuatnya
Karang dunia
Aku enggan berpikir
Aku enggan bicara
Aku enggan memandang
Bahkan nyaris kucoba punahkan
Pelan namun pasti
Tiap asa itu datang dan pergi
Hai...kau yang tlah lama kebas dalam peradabanmu
Hingga tak pernah terfikirkan
Puluhan keajaiban menghampirimu
Hanya sunggingkan senyum gamang...
Diam.....lalu hilang......
Bara dalam dada yang kadang padam kadang menyala
Dengan pijarnya
Membuatku terlena dalam kuatnya
Karang dunia
Aku enggan berpikir
Aku enggan bicara
Aku enggan memandang
Bahkan nyaris kucoba punahkan
Pelan namun pasti
Tiap asa itu datang dan pergi
Hai...kau yang tlah lama kebas dalam peradabanmu
Hingga tak pernah terfikirkan
Puluhan keajaiban menghampirimu
Hanya sunggingkan senyum gamang...
Diam.....lalu hilang......
22.ASA YANG HILANG
Lalu kubiarkan asa itu terbang
Membawa pelangi di pagi hari
Senyum itu lebih hangat dari mentari
Yang tersembul penuh arti
Kau yang maknai hidupmu
Bukan aku
Kau yang jalani hidupmu
Pun bukan aku....
Saat lelah itu ada
Membawa serta mimpi- mimpi dari dunia maya
Mengikrarkan tiap bait aksara
Yang tak mampu terekam dalam alam nyata
Ah....bisumu kelu
Diammu tabu
Punahkan saja tiap rasa itu
Menjadi butiran debu
Tidaaak....ujarmu
Harapku nyata
Kan kuletakkan tiara
Diatas kepalamu wahai wanita
Saat kupuja kau
Saat itu bahagiamu tiba
Bukan aku
Kau yang jalani hidupmu
Pun bukan aku....
Saat lelah itu ada
Membawa serta mimpi- mimpi dari dunia maya
Mengikrarkan tiap bait aksara
Yang tak mampu terekam dalam alam nyata
Ah....bisumu kelu
Diammu tabu
Punahkan saja tiap rasa itu
Menjadi butiran debu
Tidaaak....ujarmu
Harapku nyata
Kan kuletakkan tiara
Diatas kepalamu wahai wanita
Saat kupuja kau
Saat itu bahagiamu tiba
Tak perlu berpikir sulit sobat
Ini hanya imajinasi yang hebat
Yang berakar pun beranak pinak
Dalam beberapa kurun waktu yang dekat
Kau nikmati tiap prosa itu
Tak perlu coba lukiskan tiap makna dan baitnya
Kalau itu hanya akan membuat sakit kepala....
Dunia khayal itu dapat setinggi langit
Dengan ribuan bintang bertabur disana
Banyak kemungkinan yang ada
Maka janganlah pernah salah menafsir kata
23.BUNGKAM
Tuhan...hari ini aku hanya ingin bungkam
Mencoba menyelesaikan semua hanya dengan diam
Keras fikiranku berkutat dalam kelu
Mengartikan tiap makna yang serasa tabu
Kau...lebih tau akan mampuku
Dan saat kukibarkan bendera putih itu
Apa Kau akan mengangkatku??
Tanyaku dalam harap
Seiring udara yang berasa pengap
Dan saat kukibarkan bendera putih itu
Apa Kau akan mengangkatku??
Tanyaku dalam harap
Seiring udara yang berasa pengap
24.AKU DAN SEBUAH LILIN
Apa yang bisa diharapkan
Pada lilin yang tlah redup
Bahkan sebentar lagi padam
Karna membiarkannya membakar diri
Dan leleh menjadi cair
Apa kau punya pilihan lain
Kecuali mencari lilin yang baru
Sebagai penerang agar kau
Tak hidup dalam kegelapan
Lalu berjanjilah akan satu hal
Jagalah pijarnya...
Agar ia tak sia-sia menerangimu
Agar ia merasa berharga karna dengan cahayanya yang kecil
namun ia mampu mendamaikan hatimu....
25.GOMENASAI
Mungkin bagiku maknanya lebih dalam
Daripada sekedar kata maaf
Atau mungkin lebih baik
Dari pada kata penyesalan yang teramat sangat
Siapa yang peduli itu
Dari pada kata penyesalan yang teramat sangat
Siapa yang peduli itu
Mungkin kau fikir aku meninggalkanmu
Setelah ku ucapkan gomenasai itu
Tidak...kufikir kau tak perlu berprasangka sejauh itu
Aku hanya surut berapa depa dibelakangmu
Dan mencoba memalingkan wajahku
Beberapa saat..ya hanya beberapa saat
Setelah kau yakini kesalahanmu
Yang tlah membuatku terluka
Walaupun mungkin keegoisanmu takkan pernah
Mengizinkanmu tuk akui itu
Aku tetapkan terima
Seperti hari- hari yang lewat
Bukankah itu sudah menjadi hal yang sangat biasa
Dan hari ini...aku menguji kemampuanmu berpikir
Untuk menyelami tiap rasa
Antara kita berdua....
Berhentilah membuatku bosan
Untuk memaklumi tiap hal yang tak menyenangkan hatiku
Atau bahkan melukaiku.....
Tapi sudahlah....
Diamlah ditempatmu
Sampai luka ini membaik
Hingga kau tak perlu bisikan ucapan gomenasai padaku
Karna aku yang akan merangkulmu kembali
Dan bisikan jutaan dimensi kenyamanan untukmu...
26.MEMOAR GILA
Kau....berkaca dengan cinta
Membuatnya indah selaksa mutiara
Kau....mendewakan apa?
Seolah gulana itu hanya khiasan kata
Kau....lama membuatku merana
Menganggapmu sebagai dunia
Dimana aku bernafas didalamnya
Dan kau fakta yang terlalu nyata
Saat kelelahan mengancam jiwa
Liuk lakumu menggoda bara
Meredamkan setiap murka
Menyisakan onggokan permata
Yang mana terlihat bak selaksa cerita
Kosong....itulah akhirnya
Hai...dunia itu membias asa
Menyibak perih dalam luka
Seakan tertampar oleh kefanaan jiwa
Hatiku memekik geram dalam putus asa
Kau adalah gambaran memoar gila
Yang membuatku melayang tinggi keangkasa.....
Seolah gulana itu hanya khiasan kata
Kau....lama membuatku merana
Menganggapmu sebagai dunia
Dimana aku bernafas didalamnya
Dan kau fakta yang terlalu nyata
Saat kelelahan mengancam jiwa
Liuk lakumu menggoda bara
Meredamkan setiap murka
Menyisakan onggokan permata
Yang mana terlihat bak selaksa cerita
Kosong....itulah akhirnya
Hai...dunia itu membias asa
Menyibak perih dalam luka
Seakan tertampar oleh kefanaan jiwa
Hatiku memekik geram dalam putus asa
Kau adalah gambaran memoar gila
Yang membuatku melayang tinggi keangkasa.....
27.SKEPTIS
dimana sesuatu yang kau namakan logika
bahkan warnanya saja tak mampu kau rasa
enggan rasanya aku menerima
saat nelangsa ini bekukan jiwa
skeptis...
ya...mata itu memancar sadis
tak bisa kucairkan bengis
bahkan nyerinya terasa mengiris
kau atau aku ??
skeptis itu memburu
membungkam lembaran masa lalu
hingga berubah semu
aku marah pada diriku
yang membuatnya hilang dari peradaban
yang ingin kembali namun telalu jauh berlari
aku sesalkan tiap goresannya
yang mengelamkan raga
dan membuatnya binasa
skeptis itu meraja
dalam tiap jengkal aliran darahnya
luka yang menganga itupun membiru
kembali beku dan kuyu
bahkan warnanya saja tak mampu kau rasa
enggan rasanya aku menerima
saat nelangsa ini bekukan jiwa
skeptis...
ya...mata itu memancar sadis
tak bisa kucairkan bengis
bahkan nyerinya terasa mengiris
kau atau aku ??
skeptis itu memburu
membungkam lembaran masa lalu
hingga berubah semu
aku marah pada diriku
yang membuatnya hilang dari peradaban
yang ingin kembali namun telalu jauh berlari
aku sesalkan tiap goresannya
yang mengelamkan raga
dan membuatnya binasa
skeptis itu meraja
dalam tiap jengkal aliran darahnya
luka yang menganga itupun membiru
kembali beku dan kuyu
28.AKU DAN DUNIAKU
Duniaku seolah berpendar-pendar
Lelah mengais dalam tiap hal
Punahkan tiap harapan kelabu
Yang membeku dalam kelu
Tuhan...aku ulurkan tangan pelan
Lemah meratap dalam kelam
Hanya berharap sedikit jawaban
Tuhan....aku membungkuk penuh harap
Tak ingin lagi kugantungkan hidup
Dalam kesemuan yang tiada pernah surut
Tidakkah desau itu terlalu lantang
Dan sungguh demi Tuhan aku enggan mendengar...
Lelah mengais dalam tiap hal
Punahkan tiap harapan kelabu
Yang membeku dalam kelu
Tuhan...aku ulurkan tangan pelan
Lemah meratap dalam kelam
Hanya berharap sedikit jawaban
Tuhan....aku membungkuk penuh harap
Tak ingin lagi kugantungkan hidup
Dalam kesemuan yang tiada pernah surut
Tidakkah desau itu terlalu lantang
Dan sungguh demi Tuhan aku enggan mendengar...
29.VERTICAL LIMIT
Kamu dalam fikiranmu
Memuja dan memimpikanku
Berteriak keras ditelingaku
Tolong pahami rasaku....
Kamu dalam hidupmu
Aku bak bintang dimalam- malammu
Bak tetesan embun dipagi harimu
Dan berkata lantang
Mengertilah aku....
Ini vertical limit
Kau anggap aku sebagai hidupmu
Aku mengerti.....
Kau anggap aku cinta sejatimu
Aku pahami....
Kau anggap aku duniamu
Aku maklumi....
Kau minta pengertianku
Aku beri....
Jangan kau buang bahagiamu
Lakukan inginmu
Bila tuk lupakanku
Kaupun tak mampu...
Tapi satu hal jangan kau tanya rasaku....
Jangan kau tuntut hidupku
Aku bukanlah skeptis
Tapi ini adalah vertical limit
Dimana hanya sebuah garis lurus
Yang takkan kau temui dimana
Batas itu berakhir....
Memuja dan memimpikanku
Berteriak keras ditelingaku
Tolong pahami rasaku....
Kamu dalam hidupmu
Aku bak bintang dimalam- malammu
Bak tetesan embun dipagi harimu
Dan berkata lantang
Mengertilah aku....
Ini vertical limit
Kau anggap aku sebagai hidupmu
Aku mengerti.....
Kau anggap aku cinta sejatimu
Aku pahami....
Kau anggap aku duniamu
Aku maklumi....
Kau minta pengertianku
Aku beri....
Jangan kau buang bahagiamu
Lakukan inginmu
Bila tuk lupakanku
Kaupun tak mampu...
Tapi satu hal jangan kau tanya rasaku....
Jangan kau tuntut hidupku
Aku bukanlah skeptis
Tapi ini adalah vertical limit
Dimana hanya sebuah garis lurus
Yang takkan kau temui dimana
Batas itu berakhir....
30.KATARSIS
Dogma yang
meraja itu
Meleburkan setiap mimpi panjang
Dan menghapus tiap liturgi...
Meleburkan setiap mimpi panjang
Dan menghapus tiap liturgi...
Aku yang berdiri dalam
senyap
Mendokrin hidupku agar tak membuatnya terkapar mati
Kembali....
Mendokrin hidupku agar tak membuatnya terkapar mati
Kembali....
Lagi...tiap
kamuflase itu hilang timbul
Seiring mimpi- mimpi yang dibekukan
Oleh malam yang pincang
Ini sebuah khiasan dalam ketiadaan
Sebuah cerita dalam kefanaan
Seiring mimpi- mimpi yang dibekukan
Oleh malam yang pincang
Ini sebuah khiasan dalam ketiadaan
Sebuah cerita dalam kefanaan
Dan aku seolah
mati suri
Yang bereinkarnasi kembali bak arca dewi
Dengan seulas senyum terpahat
Dimana tergambar sebuah kedamaian yang panjang
Yang bereinkarnasi kembali bak arca dewi
Dengan seulas senyum terpahat
Dimana tergambar sebuah kedamaian yang panjang
Ini sebuah
katarsis yang sempurna
Saat bibir tak lagi mampu bercerita
Dan air mata membeku dengan sendirinya....
Saat bibir tak lagi mampu bercerita
Dan air mata membeku dengan sendirinya....
31.ALASAN TUK
BERTAHAN
pagi ini kembali sang fajar meniti hati
risau itu kandaskan teman
kita punya ribuan alasan untuk tersenyum
kita punya ribuan khayalan akan kebahagiaan
kau...rengkuh harimu dengan asa yang kau tinggalkan dalam
buka sesaat saja hanya untuk mengartikan kelam
kau...mampu pelajari sebuah biduk yang datang silih berganti
bukan cinta yang membelit dan merajai hati
kau...milikiku yang selalu menyakinimu
bahwasanya hidup itu berjalan maju
aku luruskan sikapku
aku indahkan perangaiku
aku kobarkan kasihku
aku membelitmu dalam laguku
dan aku bisikan sedikit norma padamu
agar kau tahu, tentang kepedulianku
aku yang takkan meninggalkanmu
dalam hitungan detik bahkan tahunku....
risau itu kandaskan teman
kita punya ribuan alasan untuk tersenyum
kita punya ribuan khayalan akan kebahagiaan
kau...rengkuh harimu dengan asa yang kau tinggalkan dalam
buka sesaat saja hanya untuk mengartikan kelam
kau...mampu pelajari sebuah biduk yang datang silih berganti
bukan cinta yang membelit dan merajai hati
kau...milikiku yang selalu menyakinimu
bahwasanya hidup itu berjalan maju
aku luruskan sikapku
aku indahkan perangaiku
aku kobarkan kasihku
aku membelitmu dalam laguku
dan aku bisikan sedikit norma padamu
agar kau tahu, tentang kepedulianku
aku yang takkan meninggalkanmu
dalam hitungan detik bahkan tahunku....
32.KEPASTIAN JIWA
Dan....
Semua serupa dengan kepastian jiwa
Asa itu terbelenggu oleh norma
Atau hanya ketakutan yang tak beralasan
Aku memilih bungkam
Diam dalam senyuman
Bosan aku merengkuh badai
Yang kadang datang
Kadang menghindar
Jalanku lurus....
Tak perlu kau sangsikan
Aku tumbuh dengan hidupku
Dan aku mantap dengan jalanku
Semua itu nyaris semu...
Ah tak perlu merajuk selalu
Kau tau hidupmu dan aku tau hidupku
Tak ingin ku bersandar pada kelemahan
Kuatlah engkau agar aku tenang
Karna aku mulai enggan
Menahan angin kencang yang remukkan tulang....
Semua serupa dengan kepastian jiwa
Asa itu terbelenggu oleh norma
Atau hanya ketakutan yang tak beralasan
Aku memilih bungkam
Diam dalam senyuman
Bosan aku merengkuh badai
Yang kadang datang
Kadang menghindar
Jalanku lurus....
Tak perlu kau sangsikan
Aku tumbuh dengan hidupku
Dan aku mantap dengan jalanku
Semua itu nyaris semu...
Ah tak perlu merajuk selalu
Kau tau hidupmu dan aku tau hidupku
Tak ingin ku bersandar pada kelemahan
Kuatlah engkau agar aku tenang
Karna aku mulai enggan
Menahan angin kencang yang remukkan tulang....
33.WANITA DAN
SEBUAH PROSA
Aku terpasung…
Dalam
gendering yang ditabuh
Terdengar
memuakkan dan gamang
Aku terpasung
dalam kepastian
Yang teronggok
tanpa daya
Bagai bangkai
dimana ribuan burung mayar
Mencabiknya…jijik
Aku memasung
duniaku
Dalam bait
semu
Ribuan cinta
dan kefanaan meraja
Esensi hidup
yang manja
Membungkam
lalu mendustakannya
Coretan ini
bukan tradisi
Yang kau
nikmati dengan secangkir kopi
Yang coba kau
telusuri hingga pada bait terakhirnya
Lalu kau cari
tahu maksud yang tercipta
Dan kaukan
tanyakan pada dunia
Apa isi kepala
wanita gila
Yang selalu
merutuk pada dunia…
Pada hidupnya…
Aih… itu
nelangsa
Bungkam saja
kau
Dengan segala
retorika yang tersisa
Ini hanya
sebuah prosa
Yang tak perlu
kau tau maknanya…
34.IBU
ibu dipagi ini aku melihatnya
kumpulan bunga-bunga tanjung berguguran
menebar aroma wangi.... samar
ibu temani aku saat ini
tak perlu bicara hanya diam
aku ingin menatap gugurnya bunga bersamamu
sambil menggenggam tanganmu
atau berbaring di pangkuanmu
dadaku bergemuruh karna sesak bu
mencoba mengukir senyum semu
yang aku sendiri tak mampu memahami arti
ibu...hingga nanti suatu masa
aku akan tetap diam disini bak tonggak yang berdiri
menutupi sebagian wajahku
dengan topeng-topeng senyum itu
tak berharap lebih
ajari aku bersyukur dalam hidupku
dengan jutaan nukilan yang terpahat
walaupun...
lagi-lagi terlihat semu....
kumpulan bunga-bunga tanjung berguguran
menebar aroma wangi.... samar
ibu temani aku saat ini
tak perlu bicara hanya diam
aku ingin menatap gugurnya bunga bersamamu
sambil menggenggam tanganmu
atau berbaring di pangkuanmu
dadaku bergemuruh karna sesak bu
mencoba mengukir senyum semu
yang aku sendiri tak mampu memahami arti
ibu...hingga nanti suatu masa
aku akan tetap diam disini bak tonggak yang berdiri
menutupi sebagian wajahku
dengan topeng-topeng senyum itu
tak berharap lebih
ajari aku bersyukur dalam hidupku
dengan jutaan nukilan yang terpahat
walaupun...
lagi-lagi terlihat semu....
35.NUKILAN
TERAKHIR
apalagi yang bisa kulihat hari ini
dipagi ini...ya kali ini
malam panjang terlewatkan sudah
hening hati tak tergantikan
namun semua berjalan tenang
tanpa gejolak asa yang tak beralasan
bosan...tak usah dikatakan
mencoba lalui hari tanpa bimbang
untaian do'apun tlah dipanjatkan
lalu apalagi yang kurang?
mungkin cukuplah keikhlasan
yang dapat membimbing kita dalam tenang...
tanpa gejolak asa yang tak beralasan
bosan...tak usah dikatakan
mencoba lalui hari tanpa bimbang
untaian do'apun tlah dipanjatkan
lalu apalagi yang kurang?
mungkin cukuplah keikhlasan
yang dapat membimbing kita dalam tenang...
Komentar
Posting Komentar