Aku menatapnya dengan halusinasi
yang tersisa, seolah
semua
itu tak pernah ada, tak pernah kualami. Atau mungkin ini serupa mimpi yang akan
berlalu saat aku terbangun. Tak bisa, bahkan aku tak mampu berdamai dengan hati
kecilku sendiri sekuat apapun aku mencoba memotivasi hidupku, untuk bisa
berpikiran positive, tapi untuk kali ini. Aku seolah dalam fase on death and dying, menimang apapun
kemungkinan yang akan terjadi, bahkan bila tak ada kemungkinan lagi, aku tetap memilih takkan pernah
melahirkanmu didunia ini.
****
Amira Maharani, bayi mungil itu
menangis keras karena merasa bosan menungguku mengikuti tiap prosesi yang harus
kulalui sebagai wanita pasca melahirkan. Ibu mertuaku adalah wanita ortodok yang suka menerapkan berbagai
macam peraturan dalam rumahnya, termasuk prosesi untuk wanita pasca melahirkan
seperti aku, yang baru berjalan
beberapa hari ini.
“Ma, Amira nangis,” Ujarku tak
tenang, sambil terus melongok kearah bayi cantik yang terbaring diatas ranjang,
ia nampak bergerak-gerak dari dalam bedong berwarna biru cerah dengan gambar
beruang madu disana, tangan kecilnya coba mendorong-dorong dan kaki mungilnya
berusaha menendang.
“Mbok Sani...mbok,” Ibu mertuaku coba memanggil
salah seorang pembantu dirumahnya yang terbilang cukup
besar itu, Mbok Sani tampak datang tergopoh-gopoh.
“Coba
mbok yo diangkat dulu si genduk, tak mbengkung ibune disik loh,” Ujar mama
mertuaku, dengan bahasa jawa campur bahasa Indonesia. Suaranya nampak tegas
terdengar.
“Injih
ndoro,” Ujar Mbok Sani, dengan sigap Mbok Sani mengangkat Amira, namun tak
juga mampu membuat tangis malaikat kecilku itu berhenti.
“Oalah
nduk...nduk, sabar disik yo cah ayu,” Ujar Ibu mertuaku sambil tetap dengan
kegiatannya, menarik-narik stagen sepanjang 15 meter di pinggangku, dan itu
belum seberapa, aku sampai merasa pusing sendiri karena harus berputar-putar
hingga stagen itu benar-benar kencang membelit pinggangku.
“Ini bagus buat kamu Yu, soalnya
biar perutmu enggak gomyor, malu kalau baru punya anak satu badanmu sudah
rusak, ndak bisa merawat diri,” Terang Ibu mertuaku panjang kali lebar.
“Wes, selesai,” Ujarnya sambil
tersenyum puas demi melihat hasil karyanya,” Tinggal jariknya,” Ujarnya lagi.
“Bisa nanti saja enggak ma, Ayu
kasihan sama Amira dia sudah tidak sabar mau menyusu, lagi pula sudah mulai
bengkak nih ma,” Ujarku.
“Nanti dulu sebentar, ini bagus buat
bagian bawahmu. Biar tetap rapet,”
“Oh
my God,” Pekikku dalam hati, Seandainya Mas Anan tidak memutuskan untuk
membawaku pulang kerumahnya, dan membiarkan aku melahirkan dirumah ibu
kandungku pasti hidupku tidak akan sengsara seperti ini, bahkan ingin menyusui
anak saja sulit, pagi-pagi sebelum sholat shubuh aku harus mandi sambil
menepuk-nepukan air dikeningku, alasannya biar penglihatanku lebih jelas, aku tidak
boleh tidur pagi harus tidur diatas jam 12 siang pas bedug dhuhur alasannya
nanti darah putih naik ke mata, padahal jelas sekali bahwa Amira itu selalu
terjaga di sepanjang malam, kembali aku menarik nafas panjang. “Ilmu dari mana
itu,” Pikirku lagi,” Perasaan waktu aku pendidikan D3 Keperawatan enggak
gini-gini banget deh,”
Akhirnya dengan susah payah, Amira
mendapatkan lagi Asi-nya, tapi diantara itu aku yang paling sengsara, karena
untuk berjalan kearah Amira saja, kurasa jalannya siput lebih cepat dibanding aku,betapa tidak, langkah kakiku terhalang dengan jarik panjang
yang dibebatkan ibu mertuaku, dan tidak hanya sampai disitu, masalahnya akan bertambah saat aku ingin
kebelakang sekedar buang air kecil atau buang air besar. Oh...rumitnya, bongkar
pasang lagi, waktuku terbuang hanya untuk itu.
****
“Berhenti saja jadi perawat,” Ujar Mas Anan, suamiku, disuatu malam, mengingat waktu
cuti pasca melahirkanku hampir berakhir. Aku terdiam, sambil menggantikan popok
Amira yang basah karena ompol.Bayi
mungil
itu
Nampak
tenang,
masih
terlalu sore untuk
terjaga.
“Berpikirlah sedikit tentang Amira,
kasihan dia masih terlalu kecil, biar bagaimanapun dia butuh mamanya,” Lagi-lagi
Mas Anan berujar,”Apa mama
akan sanggup mengurusinya saat kamu tinggal kerja nanti,”
Entah sudah berapa kali Mas Anan
mengajukan hal itu, ya, keputusan untuk berhenti bekerja tentunya. Yang sampai
saat ini tak bisa juga kuputuskan, jujur saja aku butuh pekerjaan ini, karena
aku tak mungkin bisa membantu keluargaku. Kedua adikku, Reyhan dan Adis, mereka masih membutuhkan banyak
biaya untuk dapat terus melanjutkan sekolahnya, karena sudah jelas tak mungkin
aku meminta Mas Anan untuk membantu membiayai mereka, walaupun ia suamiku sendiri. Ada rasa
jengah, saat Mas Anan sering mengungkit-ungkit pengeluaran yang kadang dia
keluarkan untuk keluargaku, karena hampir semua kebutuhan keluargaku sendiri 50
% berasal dari gajiku, pun biaya
adik-adikku, maka dari itu apapun yang terjadi aku harus bekerja, bukan berarti
aku tak taat pada suami, tapi kondisi hidupku yang membuatku tak punya pilihan,
satu hal yang paling kusadari, bahwa orang tuaku berjuang mati-matian untuk
menyekolahkanku, dengan harapan aku mampu hidup dengan hasil jerih payahku
sendiri. Masih kuingat ucapan mama, saat kami menghabiskan waktu bersama
diberanda rumah beberapa tahun yang lalu,
“Jadi
perempuan itu harus bisa menghasilkan uang sendiri Yu, ya buat jaga-jaga, kita
tidak pernah tahu kehidupan kita kedepan seperti apa, syukur-syukur kamu dapat
suami yang baik dan pengertian, tapi kalau kamu dapat suami yang kurang ajar.
Banyak contohnya loh, makanya kalau kamu kerja, minimal kamu bisa sedikit sombong
dan enggak terpuruk banget harus ngemis-ngemis ke suami,”
Ucapan
mama itu terus terpatri, kadang ada sedikit ketakutan, tentunya dalam posisiku sebgai
istri yang bekerja mengikuti shift, kadang dinas pagi, siang atau malam. Dan
disisi lain Mas Anan yang selalu menuntutku dalam segala hal, dan jujur saja terkadang sulit aku mengikuti pola
pikirnya,
juga temperamennya yang kadang naik turun tak pasti itu.Ya mungkin saja dia lelah dengan pekerjaannya sebagai aparat kepolisian.
Satu lagi, aku pikir pekerjaanku
sebagai perawat itu adalah pekerjaan yang baik dan cukup mulia kurasa, aku ikhlas
menjalani semuanya. Dimana aku bisa mengangkat sedikit beban mereka yang sakit
dan memenangkan hati mereka, mendorong mereka untuk berpikir positif tentang
sakit mereka. Dan satu hal yang jelas kudapat, aku banyak mendapatkan pelajaran
dari indahnya bersabar. Menghadapi prilaku beberapa orang dengan psikologis mereka
yang tertekan. Bukan
hanya dengan
pasien saja
tapi
meliputi
keluarga mereka juga.Dan,dari sinilah kita tahu betapa uniknya manusia itu,dengan berbagai watak yang terkadang
tak
mampu
kita
mengerti,
hingga
benar-benar kutemukan
makna
dari
sisi
altruism-nya
kehidupan itu
sendiri.
“Kamu enggak pernah mau dengerin aku
ya?,” Suara mas Anan mengejutkanku.
“Oh... iya nanti saya pertimbangkan
mas,” Ujarku berharap kalau Mas Anan akan puas dengan jawabanku.
“Selalu
jawabanmu seperti itu, bukankah sejak kita menikah aku sudah ajukan permintaan
ini dan jawabanmu selalu sama,”
“Iya
Mas, tapikan untuk resign prosesnya enggak
semudah itu,”
“Kalau
kamu enggak pernah ajukan bagaimana bisa diproses,”
“Iya,”
Ujarku. Jawaban
singkatku
menutup
pembicaraan kami.
****
“Mas
Anan minta Ayu keluar kerja,Ma,” Ujarku disuatu ketika, saat mamaku datang
untuk melihat cucu pertamanya.
Mama
menatapku, sambil memangku malaikat kecilku yang nampak tertidur, wajahnya
tampak tenang. Mungkin
karena
bersama mama, anak
itu
tidak
rewel
sama
sekali, kupikir
karena mama
memiliki kepribadian yang membuat siapa saja nyaman bersamanya, mama itu adalah mama terhebat, yang
selalu mampu
membuatku
merasa
nyaman, dan
bias
saja
itupun
yang dirasakan
Amira
saat
bersamanya.
“Hmm...terserah
kamu Yu, Anan itu suami kamu, apapun perintahnya seharusnya kamu menurut,”Ujar mama sambil
menepuk-nepuk
bokongAmira yang terbungkus
bedong.
“Tapi
bagaimana biaya Reyhan dan Adis,Ma? Mereka masih butuh banyak biaya,”
“Biar
nanti mama yang mencari, kamu tenang saja. Lagipula Reyhan dan Adis itu
tanggung jawab mama, bukan kamu, capek
mama ngelihat kamu sama Anan
ribut terus gara-gara ini,”Jawab
mama datar.
“Ma,
mama mau nyari dimana? Uang pensiun papa enggak akan cukup untuk membiayai
mereka, belum buat obat papa yang mesti tiap bulan diminum, belum buat
belanja,” Ujarku.
“Yu...jangan
terlalu rumit berpikir, mama masih bisa kok nyari-nyari, lagi pula rezeki sudah
ada yang ngatur, kalau ada rezeki Reyhan untuk sekolah pasti ada jalannya nanti, jadi apa yang mesti dipusingkan,lagi pula sebentar
lagi
Reyhan
juga
lulus,kok,”
Aku
menatap mama, ya...mama memang selalu begitu, selalu berusaha tegar. Bekerja
apapun yang menghasilkan uang, dan aku sebagai anak tertuanya, mana tega
membiarkannya sampai selelah itu, papa yang sudah hampir 3 tahun terkena
stroke, tak bisa lagi menghasilkan apa-apa, hanya mengandalkan uang pensiun
saja yang jumlahnya hanya cukup untuk makan dan menebus obat. Reyhan dan Adis,
dua adikku ini terbilang cukup pintar. Kupikir sayang sekali kalau mereka harus
berhenti sekolah. Reyhan memutuskan untuk mengambil jurusan kuliah sama
denganku, ia pikir prospek kedepan akan sangat baik,
“Seorang
perawat laki-laki kayanya prospeknya bagus mbak Ayu, cuma Reyhan enggak tega
bilang sama mama, kayanya mama enggak akan punya biaya untuk masukin Reyhan
kesana deh. Mbak ayu tahu sendirikan biaya masuk akper itu lumayan mahal,” Ujar
adikku yang nomor dua ini, disuatu ketika.
Aku
tersenyum,”Tenang aja Rey, nanti mbak Ayu yang akan biayai kamu, yang penting
kamu harus belajar yang benar ya,”
“Serius
mbak Ayu,” Ujarnya.
Aku
mengangguk, ia nampak tersenyum,” Mbak Ayu tenang aja, nanti kalau mbak Ayu
punya anak, aku janji...biar aku yang biayain anak mbak Ayu, hitung-hitung aku
balas budi sama mbak,”
Aku
tersenyum,” Enggak usahlah, tanggung jawab anak mbak Ayu nanti biar jadi
tanggung jawab ayahnya Rey,”
Reyhan
tertawa,” Iyalah mudah-mudahan mbak Ayu dapat suami yang baik dan pengertian ya
mbak Ayu, “
“Amiin,”
Sepotong
obrolan yang membuatku kembali menatap masa lalu, karena do’a Reyhan tak
semuanya di ijabah Tuhan. Ya,
pada
akhirnya aku
menikah dengan Mas Anan, pertemuan kami terbilang sangat singkat. Kami pertama
bertemu di Rumah Sakit dimana aku bekerja, saat itu mas Anan mengantar salah
satu temannya yang kecelakaan. Dan aku sedang bertugas di IGD. Mas Anan adalah
seorang polisi berpangkat perwira, dan entah apa yang membuatnya tertarik
padaku, aku tak tahu.
Sejak
saat itu ia mulai mencoba mendekatiku, ia coba bertanya pada beberapa staf IGD
tentang jadwal dinasku, dan berusaha menjemputku. Hingga kami semakin dekat.
Sampai ia mengatakan ingin melamarku, karena usianya sudah tidak muda lagi. Dengan
sabar ia menunggu keputusanku untuk menerima
lamaran, dan akhirnya setelah beberapa syarat kuajukan termasuk aku harus tetap
bekerja, karena posisiku sebagai anak tertua dalam keluarga yang masih memiliki
tanggung jawab untuk membiayai adik-adikku. Iyapun tak keberatan.
Dan
akhirnya kami resmi menikah, awalnya pernikahan kami cukup bahagia, namun
ternyata kami lama diberi momongan, karena ada sedikit masalah pada
kandunganku, sehingga kami putuskan untuk melakukan beberapa pengobatan. Tak sedikit
biaya yang kami keluarkan. Sampai pada akhirnya, mas Anan memintaku untuk
beristirahat saja dirumah, biar dia lebih fokus mencari uang dan aku merawat
diriku. Saat itu aku menolak, karena papa masuk rumah sakit, ia terkena stroke
dan masuk ICU. Alasan yang kuajukan membuat dia mengerti, tapi tetap saja ia
membuatku tak nyaman. Karena ia berpikir aku tak punya banyak waktu untuknya,
sibuk memikirkan keluargaku dan pekerjaanku saja.
****
Tak
terasa waktu berlalu, Amira semakin besar saja, pertumbuhannya luar biasa
kurasa. Walaupun kadang ia agak susah makan, atau jatuh sakit mungkin dikarenakan anak seusianya sering memasukan apapun kedalam mulut dan tentunya dalam beberapa proses perkembangannya,kadang
ia
suka
panas.
Karena
giginya
tumbuh
atau
terlalu
heboh
saat
belajar
berjalan, Amira…malaikat
kecilku yang luar
biasa.
Tidak
hanya
itu
saja, iapun
mulai banyak maunya apalagi dalam hal makanan. Maka tak heran kalau badannya tak terlihat gemuk, beberapa vitamin coba
diberikan, karena mama
mertuaku sering protes karena Amira terlihat kurus. Malu sama tetangga, itu alasan yang dilontarkannya, masa
Amira
kurus,padahal
mamanya
perawat.
Dan
pada akhirnya, protesnya Mama
mertuakupun berlanjut semakin bnyak saja, karena Amira semakin susah
dikendalikan, aku pikir itu hal biasa, karena Amira semakin berkembang. Anak
usia 11 bulan itu memang sedang aktif-aktifnya, apalagi bocah ini benar-benar
enggak bisa diam. Kadang-kadang sebelum berangkat kerja aku meminta Mbok Sani untuk menjaga Amira, kerana aku
benar-benar tidak enak dengan mama mertuaku,
“Jangan
terlalu lama mama yang pegang Amira ya mbok, takut mama kecapean,” Ujarku.
Mbok
Sani, wanita tua itu kuakui memang sangat sabar menghadapi anakku, yang memang
rasa ingin tahunya sudah semakin tinggi.
“Iya...tenang
saja,Mbak Ayu, nanti simbok yang megang si genduk,
lha wong selama ini juga simbok yang megang kok,”
“Makasih
mbok,” Ujarku, dan itu cukup menenangkanku.
Tapi
selalu saja lain cerita, saat aku pulang kerja selalu ada pengaduan berbeda
dari mama mertuaku dan jelas itu memacu emosi mas Anan, Amira itu beginilah,
Amira itu begitulah, aku pikir aku cukup tenang membiarkan Amira bersama Mbok Sani. Hingga aku tak bisa lagi
percaya siapa yang bicaranya benar. Mbok Sani yang merasa bahwa selama ini
Amira selalu bersamanya atau mama mertuaku yang bilang kalau Mbok Sani terlalu
sibuk dengan tugas-tugasnya hingga tidak bisa memegang Amira sama sekali.
“Anak
itu enggak bisa diam, mama vertigo
kalau begini lama-lama,
Yu. Mbok yo
coba
kamu
cari
pengasuh
kek,”
Ujar mama suatu saat. Padahal
cari
pengasuh
itu
tidak gampang, sebelum
mama mertuaku minta, aku sudah coba mencari pengasuh, namun
terlalu
banyak
kendala
dari
mereka.
Yang mereka tidak mau menginaplah, yang harus inilah itulah. Kadang-kadang
alasan yang mereka minta tidak masuk akal sama sekali.
“Jadi
kamu suka seperti ini Yu, tolong kamu urus anakmu itu,” Kembali Mas Anas
melancarkan serangannya,”Berhentilah kerja, Reyhan itu masih punya orang tua
yang membiayainya, dan kamu... tanggung jawab kamu itu cuma mengurus anak dan suami.
Cuma itu,” Ujar Mas Anan. Lagi-lagi Mas
Anan membuatku dalam posisi sulit.
****
Pada
suatu ketika Amira jatuh sakit, ia terkena diare disertai demam, kupikir kali
ini cukup serius, karena sudah hampir
satu minggu berlalu.
“Sudahlah
enggak
apa-apa, Yu,” Ujar Mama
mertuaku,” Lha wong Amira itu mau
pintar
loh,dia
itu lagi ngendah, biasalah anak seumuran segitu sakit-sakitan,” Sambung mama mertuaku
lagi yang tentu
saja
aku tak
berani
berdebat,
bahkan ijazahku sebagai perawat saja tak berlaku di rumah ini. Aku tak tenang, wealaupun hanya
mampu kusimpan dalam hati terlebih lagi saat Amira mulai tidak seaktif biasanya, berbagai macam
obat sudah diminumnya, dari obat macam prebiotik yang aku bawa dari rumah
sakit, antibiotik dan anti diare namun tidak juga membuat kondisi Amira
membaik. Malah makin
lama dia semakin terlihat kurus saja. Maka aku putuskan membawanya berobat ke
poliklinik dimana aku bekerja, setelah
dua minggu berjalan, ya tentu saja setelah
melalui perdebatan yang panjang, dengan mama mertuaku dan Mas Anan.
“Dirawat
aja ya Mbak Ayu, ini
sudah
berjalan
dua
minggu
sepertinya Amira mulai dehidrasi”
Ujar dokter Ana, dokter yang bekerja dirumah sakit dimana aku bekerja, ia
spesialis anak yang cukup baik kurasa. Aku merasa begitu bodoh saat itu, bagaimana
mungkin
aku
membiarkan
Amira
dirumah
dalam
kondisi
seperti
itu
selama 2 minggu.
“Baik
dok,” jawabku, karena aku sudah benar-benar khawatir, kalau ada apa-apa dengan
Amira, sungguh aku tak mungkin bisa memaafkan diriku sendiri, ada rasa amarah
yang hanya mampu kulukis dalam hati, hingga aku merasa dadaku begitu sesak.
Akhirnya
Amira dirawat, ia mendapat cairan infus dan beberapa anti biotik. Aku putuskan
bergantian berjaga dengan mama kandungku dan sesekali Reyhan-pun membantu, sebenarnya aku tak ingin Reyhan ikut menunggu Amira, karena ia harus mempersiapkan ujian akhirnya. Tapi Reyhan bersikukuh,
“Enggak
apa-apa mbak, Reyhan juga bisa belajar disini kok,” Ujarnya,”Sudah mbak dines
aja, ga usah khawatir... Amira biar Reyhan yang jaga,”
Aku
tereyuh, bahkan Reyhan begitu tulus membantuku. Mas Anan hanya sesekali datang
karena kesibukannya, sebenarnya dia tak terlalu setuju kalau Amira dirawat,
dengan alasan pasti akan sangat
merepotkan, terlebih lagi aku juga bekerja dengan shift yang tidak jelas.
”Siapa
yang akan jaga Amira, enggak mungkin mama disuruh jaga kalau kamu pas dines.
Apa aku bilang mending kamu berhenti kerja saja,” Ujarnya semakin merasa diatas
angin untuk membuatku berhenti bekerja. Dan ternyata masalah teratasi, mama dan
Reyhan memutuskan untuk bergilir menjaga Amira, walaupun banyak waktu yang
harus mereka korbankan karena hal itu, sedangkan mama mertuaku hanya beberapa
kali menjenguk, itupun tak sampai menginap.
“Mbak
Ayu, ini sudah terlalu lama, tapi Amira enggak ada perubahan bahkan kondisinyapun tidak semakin membaik,” Ujar dokter Ana.
“Lalu bagaimana Dok?,”Ujarku masih dengan kecemasan yang sama.
“Maaf sebelumnya mbak,” Ujar dokter Ana,”Saya melihat ada beberapa jamur dimulut
Amira, dan juga
sariawan,” Dokter Ana
terdiam sesaat sambil menatap Amira lalu kembali menatapku,” Sebelumnya apa mbak Ayu pernah sadari
itu?,”
Aku
terdiam, sebentar aku menatap Amira
yang tertidur dengan nafas berat dan oksigen dihidungnya.
“Mbak
kita tidak
bisa mengabaikan
sedikit gejala yang ada,”
“Dok...apa
kita harus mengeceknya,” Ujarku pelan, walau pada kenyataannya aku tidak mau berpikir kearah sana, tapi aku sadari sesungguhnya
sebelum dokter Ana menyarankan tentang hal itu akupun sudah mulai
mengkhawatirkan kecurigaanku sendiri, walaupun ada penolakan yang kuat dalam
hatiku akan hal itu.
“Kalau
mbak enggak keberatan?,”
Aku
menutup bibirku dengan telapak tangan, ada rasa gamang, antara sebuah keyakinan
juga harapan. Tapi rasanya mungkin apa yang kupikirkan salah,”Ya...Tuhan..,”
Desisku.
“Kita berharap, apa yang kita pikirkan
bisa saja salah mbak,” Ujar dokter Ana,”
Tapi enggak ada salahnya kalau kita mencoba dan berpikir tentang hal yang
buruk, dari pada kita banyak bertanya-tanya nantinya,”
Aku
mulai menangis,
tanpa suara.
“Mbak
Ayu, pikirkan lagi saja,”Ujar
dokter Ana,” Kalau
mbak
siap
baru kita
lakukan,”
“Iya
dok, enggak apa-apa, silahkan dicek,” ujarku akhirnya, tidak ada pertimbangan
apapun kurasa, semua akan ada jawabannya pada akhirnya.
****
“Lihat
dari mana ini...!,”
Mas Anan berteriak ditelingaku.
Aku
menggeleng,” Aku enggak tahu mas, jangan berteriak padaku,” Ujarku diantara
tangisku yang pecah.
“Pak
tenang,” Ujar dokter Ana,” Ini rumah sakit, tolonglah semua bisa dibicarakan baik-baik,”
“Aku
setia sama kamu, Yu. Aku tidak pernah narkoba, lalu darimana penyakit ini, apa
kamu yang bermain-main, hah?,” Mas Anan mengecilkan nada bicaranya, tapi tetap
saja itu serasa tamparan bagiku.
“Aku
engga tahu mas, aku enggak tahuuuu,” aku mulai histeris, ia menuduhku. Itu yang
kutahu bahkan aku tak sadar apakah virus itu ada dipembuluh darahku.
“Siaaal,”
mas Anan melayangkan tinjunya kearah tembok. Lalu pergi meninggalkan kami, aku
menangis. Ruang dokter itu serasa sempit bagiku, nafasku terasa sesak.
“Tuhan...apa
ini, apa salahku? mengapa Kau hukum aku. Bahkan aku sendiri tak siap dan tak
tahu apa yang telah kuperbuat,
mengapa virus itu ada pada darah malaikat kecilku yang jelas-jelas pasti berasal
dari kami, sebagai orang tuanya.” Rintihku
dalam hati.
Dokter
Ana memelukku, aku menangis,” Tenangkan dirimu Mbak Ayu, kalau pikiran kita tenang, kita pasti bisa berpikir dengan
baik,” Ujar Dokter Ana, sambil mengelus punggungku.
Semua
masih menjadi rahasia, diantara perawat ruang anak dan dokter Ana, entah sampai
kapan rahasia itu tersimpan aku tak tahu, dan bagaimana imbasnya untuk
pekerjaanku, akupun tak tahu. Yang jelas otakku benar-benar buntu, beberapa
teman bertanya tentang sakit Amira dan aku hanya bungkam, atau menggelengkan
kepala. Rasa takut yang sama yang mungkin dirasakan oleh penyandang HIV
positive, mereka terlalu takut mengakui akan sakitnya. Lalu Mas Anan, setelah
kejadian
itu
ia
nyaris
menghilang
ditelan
bumi, amarahnya
luar
biasa
saat
itu, dan
aku,
sungguh-sungguh
maklum
jika
pada
akhirnya
ia
pergi, karena sudah pasti, ini akan menjadi hal terberat baginya, bila ternyata ia terinfeksi virus yang sama.
****
Aku
bisa mengingat sesuatu, ya tiba-tiba ada satu hal yang mengganggu pikiranku, maka kembali aku
membuka beberapa buku diagnosa lama, aku mengingat satu nama, seorang pasien yang pernah
terbaring di salah satu ruangan dimana aku bertugas, tentunya tidak di IGD,
karena waktu
itu
aku
dirotasi
kekelas perawatan biasa. Seingatku ia masuk dengan kesadaran delirium, dengan diagnose TB suspek
meningitis. Aku masih ingat, karena pasien itu luar biasa, dan sudah menjadi kebiasaan kami para
perawat
adalah
mampu
mengingat
beberapa
pasien
dengan
kondisi-kondisi
tertentu, bahkan
sampai
kekeluarganya.
Ya...
aku mendapatkan satu nama itu
pada
akhirnya,
setelah kucatat nomor rekam medisnya aku pergi ke bagian arsip pasien, beberapa teman menegurku ramah,
mereka bertanya tentang Amira, dan aku jawab seadanya, tentunya tak semuanya ku
ungkapkan bahkan tentang virus yang bercokol dalam darah malaikat kecilku itu.
“Buat
apa mbak Ayu,” Ujar salah seorang pegawai yang membantuku untuk mencari arsip
nama pasien itu, mungkin aku beruntung ternyata arsipnya masih ada, dan
nampaknya pasien ini masih sering mondar-mandir berobat kesini.
“Aku
pinjam ya mbak,” Ujarku
“Silahkan,”
Jawab Mbak Sri, ia
adalah
petugas
rekam
medik yang membantuku
mencari file atau status
pasien yang kumaksud.
Aku
terduduk
disudut
ruangan, sambil pelan-pelan
kubuka arsip pasien itu,yang
menurutku
lumayan
tebal, nampak tulisan tanganku pun masih nampak jelas terbaca disana, ia pernah
masuk dengan diagnosa febris e,c TB paru bilateral, GED dan susp. Meningitis. lalu beberapa file
yang menunjukan catatan dokter aku baca,demam naik turun sejak 2 minggu yang
lalu. Itu keluhan awal masuknya. Diare (+), nafsu makan kurang, batuk (+)
sesak(+) sejak seminggu yang lalu, sudah berobat, tapi tidak ada perubahan.
Keluhan yang biasa saja, lalu pada hari selanjutnya, jamur (+), hasil lab yang lain
tak menunjukkan apapun, tapi dari pemeriksaan radiologi dinyatakan klien
terdiagnosa Tb Paru aktif. Cek CD4.
Kembali
aku terdiam, membaca lembar demi lembar file disana. Lalu mataku tertuju pada
baris kalimat, cek HIV anti igm. Dan setelah itu tak ada instruksi lagi, pasien
pulang APS. Aku menarik nafas panjang,
apa arti dari semua ini, aku lupa dengan status lama yang kupegang, pasien itu
pernah masuk untuk kali kedua, dengan status diagnosa yang sama, tapi saat itu
ia penurunan kesadaran, delirium, berkali-kali infus dicabutnya, hingga kami
harus mengikatnya. Dan aku ingat disuatu kejadian saat kami mencoba memasang
infus untuk
kesekian kali, kami memutuskan untuk mengerjakannya berdua, aku yang memegang pergelangan tangan si pasien dan temanku yang menusuk.
Keluarganya coba membantu menahan agar pasien tak berontak, tenagaku yang lebih
besar cukup untuk menahan pergelangan tangannya, entah seperti apa kejadian
waktu itu, untukku itu terlalu cepat, mungkin temankupun tak sengaja melakukannya
saat ia tarik jarum dalam iv cath dan
bermaksud memasukkan kedalam penutupnya tiba-tiba pasien coba menarik hingga
tak sengaja jarum itu menusuk tanganku yang berada disampingnya, serta merta
temanku menatapku ada rasa bersalah dimatanya, akupun menatapnya. Lalu cepat
memberi kode, selesaikan.
Aku
mencuci tanganku cepat, darah mengucur disana, kuguyurkan alkohol
sebayak-banyaknya
“Yu...gimana
ini?,” Ujar temanku,”Kamu ketusuk, itu pasien dengan apa ya?,” Ujar temanku
langsung mencari statusnya. Aku terdiam masih dengan aktivitasku.
“Ah...
TB paru Yu, ujarnya saat melihat diagnosa masuk yang tertera disana,”
Aku
tersenyum,” Apapun itu, semoga enggak apa-apa ya, San,” Ujarku.
Santi
tersenyum, lalu memeluk
pinggangku,” Maaf ya Yu, kalau sampai ada apa-apa pasti aku ngerasa bersalah
banget sama kamu,”Kata-kata
Santi kembali terngiang ditelingaku. Aku lemas,
”
Ya TB paru aktif,” Gumamku sambil menutup tumpukan status dihadapanku,
”Mungkin
saja ia mengidap HIV positive setelah kejadian itu. Karena pasien itu pulang
saat disarankan untuk mengecek anti HIV igm, mungkin mereka sudah tahu
kebenarannya, mengapa tak ada kejujuran disana, bahkan buat kami yang
membantunya. Penyakit ini bukan penyakit yang ringan, seharusnya keluarga lebih
terbuka kepada kami sebagai pemberi layanan kesehatan, sepertinya kalimat bijak
itu tak pernah berlaku untuk kami”Siapa yang menabur benih maka ia akan menuai
hasilnya, lalu kami, benih apa yang kami tabur untuk mereka? Apakah ini hasil
dari benih yang kami tabur?,” Aku meletakkan kepala diatas meja, kembali
menangis dalam sesak yang tak terperi.
****
“Jadi
begini akhirnya,” Mas Anan
berujar, sepertinya ia mulai tenang. Aku terdiam, tidak tahu lagi harus bicara
apa.”Aku sudah pernah bilang sama kamu, keluar kamu dari pekerjaan ini. Kamu
pikir aku enggak sanggup membiayai kebutuhan hidupmu, dan anak kita. Sekarang
apa yang kamu dapat dari pekerjaan ini,”
“Mas
aku minta maaf,” Ujarku,
hanya
itulah kata-kata yang bisa kuucapkan,”Semua terserah Mas Anan saja, aku enggak tahu lagi harus
berbuat apa mas,”
“Bukan
cuma
kamu,Yu bahkan aku juga enggak tahu. Apa yang harus kubilang ke mama, aku enggak
akan pernah siap untuk mengatakan
ini kepadanya,”
Aku
terdiam kembali, bahkan aku merasa lebih baik aku mati saja, terlalu banyak
beban moral yang kuhadapi, bahkan saat
ini aku merasa benar-benar sendiri.
Hingga
disuatu malam,aku menangis disamping pembaringan malaikat kecilku, Amira. Ia
berjuang untuk hidup kurasa, karena semakin hari kondisi Amira tak juga
membaik, malah semakin buruk.
“Sayang
mama...maafin mama ya, mama sudah buat dede sakit, mama sudah buat dede menderita
seperti ini, ampuni mama sayang. Sungguh mama enggak pernah bermaksud menyakiti
kamu,nak,” Aku berujar ditengah air mataku yang mengalir.
“Sayang...,”
Kuusap rambut malaikat kecilku,”Lihat mama nak... bersabarlah, anak mama adalah
anak yang kuat, anak yang baik...mama enggak akan menghalangi kamu sayang kalau
kamu sudah tidak
sanggup lagi, mama ikhlas nak...,”
Kukecup
keningnya, hidungnya yang mungil, lalu kedua tangannya yang lemah, aku bisa
merasakan bahwa kedua tangan itu terasa dingin dibibirku, aku menangis, penglihatanku nampak kabur
oleh air mata, namun aku bisa melihat dia menarik nafas panjang sekali lalu
semakin lemah,dan demi Tuhan...napas itu berhenti.
“Ya
Tuhaaaan,” Desisku lirih, kembali aku menangis tanpa suara,
“Mbak
Ayu,” Seseorang menegurku, salah satu perawat yang bertugas diruang anak,
”Ya
Tuhan...,” Desisnya, saat melihatku menangis dan melihat Amira yang tak lagi
bernapas , lalu dengan cepat ia bergegas kearah nurse station dan tak lama
terdengar beberapa langkah kaki, sambil membawa troly yang berisi alat-alat
resusitasi, nampak Mbak Diana, salah satu senior diruangan ini membimbingku
untuk menjauh dari tempat tidur, mereka
berusaha untuk melakukan RJP, didepan mataku. Ya saat itu aku sendiri, tanpa
ada seorangpun yang bersamaku. Melihat buah hatiku berjuang melawan maut, dan
aku hanya mampu menatap kosong kearahnya.
“Sayang
itu terbaik untukmu, malaikat mama tenanglah disisi-Nya,” Bisikku pelan,
diantara sisa air mataku yang mengering.
****
“ Hal terberat dalam
sebuah kehidupan adalah kejujuran, maka letakkan kejujuran itu pada tempatnya,
walaupun kejujuran itu mungkin bisa saja membunuhmu, tapi dari sebuah kejujuran
pula, maka seseorang akan berterima
kasih padamu ~ In my mind ”
# dalam sebuah buku yang berjudul minority oleh erlina puji lestari
Komentar
Posting Komentar