Langsung ke konten utama

Postingan

Jutaan Lelah

Entah mengapa Bicara denganmu adalah jutaan lelah Karena untuk itu, Aku harus menahan kerasnya degub jantungku Bicara denganmu adalah kerontokan bagi sendiku Karena untuk itu Aku harus menopang kelemahan ragaku Bicara denganmu adalah karma Yang tak mampu kuhindari Dari cinta yang membuat lapaknya sendiri Tuhan maha tahu Bagaimana deritamu maupun jeritan kalbuku Kerasnya ego telah menghantam cadasnya sendiri, Kekasih Hingga mereka melebur dan membaur atas nama cinta Walau dengan itu, mereka harus terluka Seharusnya, kita berdua mulai menjarak, Kekasih? Bukan malah memendam setiap debar dalam palung hati Hingga mereka memercikan api? Ya Tuhan... Bagaimana aku bisa mengutuk cinta yang tumbuh subur tanpa cela? Lalu dengan apa kubunuh cinta Yang seolah parasit menggrogoti sukma? Ya Tuhan... Akulah jasad yang kehilangan nyawa Dalam tiap depa hembusan napasnya

Kerinduan

Aku adalah makhluk bumi Yang berpijak pada hening Merangkul sunyi Dan mendekap sepi Pemetaan jiwa, menjungkal sebuah logika Tentang kehampaan Tentang kefanaan Tentang sebuah kerinduan Aku diam di antara keremangan Senja tergilas oleh warna hitam Yang membentuk citranya Dalam dimensi waktu, yang kusebut senyap Kamu adalah bagian dalam rumpun atma Ia terus bergerilya merasuki tiap pembuluh darah Menjadikan detik demi detik hidupmu sempurna Namun, kerinduan tetap saja tumbuh Ciptakan prasasti, dalam palung hati... [epl/] Bogor, 01/02/2020

Metamorfosis Sempurna

Aku mendekapnya Jauh dalam palung hatiku Bersama jejak malam yang bertabur bintang Bersama pendar cahaya senja yang menghilang Menyumpah serapah bait-bait cinta Yang dulu pernah dinukilkan Ah, kamu... Katakan padaku bagaimana kamu bermetamorfosis? Bangkit dalam kubangan cinta yang sakit? Baiklah Selagi kucoba ungkap detail metamorfosis sempurnamu Kau telah jabarkan dengan kalam jingga Yang hampir membuatku terpesona Bogor,15 /09/ 2019

PENANTIAN

Tabir itu tersingkap Wajah-wajah penat menyeruak Aku enggan berbisik Entah... Bahkan aku hilang kendali Ketika rapuh itu kau beri Sepersekian waktu Ya, kuharap kau ingat itu Kita ciptakan memoar-memoar Yang penuh debaran indah Benarkah? Kamu atau aku yang terlupa Dengan rasa yang tersisa? Penantian... Menilik kembali luka lama Ketika bauran dendam Mulai merobek tiap depa kerinduan Ah, aku menyerah Aku kalah... Baiklah... Mungkin aku diam Dan, kau... cukuplah menatapku dalam gamang Cinta itu? Apakah masih ada kau rasakan? 17 Juli 2019

Hadirmu

oleh: Erlina P. Lestari Berapa banyak waktu kubuang Hanya untuk menjaga sebuah hati Ia tak lapang Tak jua sempit Ia hanya segumpal darah Yang terus menerus mengeluarkan nanah Sayang, disinilah puncaknya Ketika kesabaranku habis tiada sisa Namun aku masih tetap berdiri di tempatku berada Menjadi berandamu, menjadi sandaranmu Ikhlaslah... Jerit batinku, mulai mendiskriminasi jiwa Sesungguhnya ia tak perlu lagi ada Bertrasformasi menjadi raja Ah, aku selalu berharap itu Sesungguhnya, sekujur jiwaku merapuh sudah Nyali-nyaliku menciut lelah Bahkan kau tahu Atau mungkin memang tak mau tahu Tapi, sudahlah... Toh, hadirmu kadang ciptakan lelah Memunculkan segumpal amarah Yang membuat sebagian jiwaku melara (epl) Pijakkanku, 26 Agustus 2019

Dalam Dekapan Jiwamu

(Erlina P. Lestari) Aku merendanya Ya, merenda hari-hari yang kulalui Bagaikan secuil mimpi Dan, aku mengiba karenanya Kekasih... Bahkan nama itu masih mampu ku ungkap Tanpa dalih apapun jua Tanpa hijab tersamar oleh gulana Benar! Akulah yang gundah... Melihat senja yang memerah Bahkan, seolah napasku terhenti di sana Tahukah kau seberapa redup jiwaku? Tahukah kau seberapa gilanya aku? Ya, nalarku mengejan Sebentar saja ia hilang akal Lalu mengendur perlahan Dalam dekapan jiwamu, sayang... ( Jiwa-jiwa sunyi- Bogor, 26 Agustus 2019)

MERENTAN HATI

(Erlina P.Lestari) Kemana perginya? Bait-bait puisi itu mencari suaka Hingga ilalang itu pun tunduk Berpaling pada mentari Walau hangatnya pagi memberinya setitik arti Lekas...lekaslah lari Menjauh... dan terus menjauh Agar rindumu mengabur Agar air matamu berhenti meluruh Merentan hati, hingga tak terkendali Akalmu, egomu Biarlah  kembali, membaur dengan sepi