1. Wanita itu…
Pekiknya gelisah malam dalam bara nafsu
Menjelajah seantero dunia yang terkandaskan senyap
Wanita itu ucapkan mantra binal
Dalam seogok kesemuan yang tak mampu terbaca oleh malam
Bahkan dibawah jutaan lentera...
Ia buat ribuan rajah pada takdirnya sendiri
Mengisi tiap bejana dengan air tuba
Dan menyesap habis pahitnya dunia
Ia coba rentangkan tangannya
Menyentuh tiap siluet yang terasa nyata
Dan hilang seperti hembusan asap tak bernama
Pun tak berasa
Wanita itu mencerminkan hidup yang terlalu abstrak
Esensi kerasnya hidup dalam ruang laku yang koyak
Hedoisme macam apa yang terlintas
Dalam kepala para pecundang??
Membuat tubuh wanita itu terkapar…
Ia memekik dalam harapan basi
Yang baunya saja tiada berkawan lagi…
2.
Pelangi…
Lamunannya…
Akan indahnya pelangi dihari depannya
Itulah sajak hidup dalam rupa yang cela
Ini aib ucapnya…
Namun tidakkah kamipun manusia
Dengan beberapa jiwa yang renta
Dan ingin bahagia pula
Pelangi itu indah terbias
Menciptakan sebuah kelembutan
Dalam keseimbangan
semesta
Dan kami lunglai…
Meratap dalam pelan
Dengan jutaan
tatapan mencerca
Pelangi kami…
Apakah mungkin dapat kami temui
Saat serumpunan hati yang membeku mati
Menghampar bagai sisa bangkai
Yang menunggu bumi menguburkannya
Sendiri…
Pelangi kami…
Apakah mungkin dapat kami rasai
Saat kami nyaris pecahkan isi kepala kami
Dalam sisi hedoisme jiwa yang serakah
Pelangi kami…
Hanyalah ungkapan hati
Entah apakah sebangsa oase digurun pasir
Atau fatamorgana seorang pujangga pemikir
Kami rindu…
Akan pelangi kami…
Dalam dunia kelabu
Yang kami habiskan dalam kurun waktu yang semu
3.
Wanita jalang dan pelangi
Tak ada yang diresapi lagi
Saat suara-suara itu sumbang menampar hati
Menenggelamkan warna kelabu dalam khayalan semu
Ia menarik jati dirinya
Hingga kedasar batas nestapa
Diperuntukkan lelah dalam lingkaran yang salah
Wanita itu meraja dunia
Membisikkan kicauan-kicauan
merana
Namun nampak tegar bergeliat
manja
Lihat aroma surgawi yang
menjauh pergi
Dan si pandir yang
memicingkan mata
Mencoba merasakan ditiap
jengkalnya
Ia menangis dalam geram dan
letih dalam sesal
Pelangi hidupnya seolah
hilang
Merekakan renta dalam sekejap
mata
Wanita jalang bernegosioasi
dengan waktu dan janji
Mengikrarkan mimpi dalam
nurani yang sepi
Meratap payah dalam binal
semu
Yang dirancang dalam
gelombang dahsyat
Permainan dunia…
Dan kau tahu…
Betapa jijiknya ia dengan
sebuah harapan
Yang tak pernah berkawan
Bahkan nyaris terpunahkan
Kini… dibawah jembatan ia
meratap
Merutuk pada dunia dimalam
pekat
Mengulur tangan coba meraba
Sebuah ruang hampa udara yang
nyata-nyata
Penuh sengketa
Kau acuhkan saja segala hal
Dalam keremanganmu yang
bergejolak beku
Kau tikam hatimu dengan nafsumu
Gundahkan…tenggelamkan dalam
bara yang tersisa
Wanita itu menampar halus
wajahnya dengan jutaan aksara
Yang terpahat dalam sebuah
nukilan dalam keranda
Ia mati dengan luka yang
menganga…
Bukan tubuhnya namun hatinya
Jalangkah dia dalam setiap
retorika yang ada
Bahkan setiap orang mampu
berpikir picik saja
Dunia mereka berbeda
Pun nasib tak pernah sama
Wanita jalang kini tak lagi
merana
Saat ia temukan kembali
pelanginya
Menyusun tiap liturgy
dihatinya…
Kembali…
Dunia mencerca…
Dan itulah manusia, mereka
terlalu luar biasa
Untuk menerima apapun juga....
Komentar
Posting Komentar