Senyumku sesak...
Tatapku nanar
Gila....
Aku membusuk dalam dawai cinta
Yang tiada ada kesudahannya
Sakitnya seperti apa??
Aku bertanya pelan
Dengan sangsi bisu itu....kelu.....
Langit itu tinggi
Dan bulan dimalam itu menerangi gulita
Menyisakan keremangan jiwa
Dalam bentuk lagu serupa syair syala..la...
Teruntuk bulan disana.....
Temui aku kembali
Dimalam bulan pertama....
Kedua pun di bulan- bulan selanjutnya
Aku mengadu lirih
Aku mengadu perih
Dan jikalau saat itu tiba
Aku tak lagi ada disana....
Mungkinkah aku memelukmu
Dalam ribuan damai dikesunyian malam
Yang sebentar saja mampu bergumul
Dengan kebimbangan dan beberapa bagian asa yang terbuang......
Taman pemakaman itu nampak sepi, beberapa baris batu nisan berjejer dibawah pohon kamboja dengan bunga-bunganya yang berwarna putih bersih, nampak beberapa helai kuntumnya terbang tertiup angin dan mendarat diatas makam ataupun tanah-tanah kosong yang ditumbuhi beberapa pohon puring berjenis oscar yang memiliki daun besar dengan kombinasi hijau kuning dimana warna kuningnya lebih dominan itu. Selain itu, beberapa tanaman andong-pun tumbuh disana, daunnya yang panjang dan agak besar dengan warnanya yang merah tua dan bersalur hijau tua nampak berdebu. Kesunyian dalam areal pemakaman itu, memberikan makna berbeda, walaupun disiang hari yang begitu terik. Bahwasanya, ini adalah tempat dimana kau akan membaringkan tubuhmu, dibawah gundukan tanah bersama cacing-cacing yang kelapara...
Komentar
Posting Komentar