Malam dengan keremangannya
Malampun terkoyak oleh pekatnya
Juwita itu menangis
Bersamaan dawai kesunyian yang terpecah
Dalam dimensi waktu yang lelah
Lebur....leburkan tiap untaian kata
Dalam bait- bait tak bernyawa
Seolah bisu yang terlupa aksara
Aku mainkan peranku....
Yang terlelah olehmu
Meracau si pandir
Bergidik nyinyir
Baiklah kubuang saja
Hati yang terpahat oleh cinta
Yang ternyata meninggalkan nestapa
Tak mungkinku berubah menjadi sang juwita
Yang anggun indah mempesona
Namun bersimbah tangis celaka
Dan seseorang berkata....
Berani mencintapun harus berani terluka
Dan bagiku itu hanya membuang waktuku saja......
Taman pemakaman itu nampak sepi, beberapa baris batu nisan berjejer dibawah pohon kamboja dengan bunga-bunganya yang berwarna putih bersih, nampak beberapa helai kuntumnya terbang tertiup angin dan mendarat diatas makam ataupun tanah-tanah kosong yang ditumbuhi beberapa pohon puring berjenis oscar yang memiliki daun besar dengan kombinasi hijau kuning dimana warna kuningnya lebih dominan itu. Selain itu, beberapa tanaman andong-pun tumbuh disana, daunnya yang panjang dan agak besar dengan warnanya yang merah tua dan bersalur hijau tua nampak berdebu. Kesunyian dalam areal pemakaman itu, memberikan makna berbeda, walaupun disiang hari yang begitu terik. Bahwasanya, ini adalah tempat dimana kau akan membaringkan tubuhmu, dibawah gundukan tanah bersama cacing-cacing yang kelapara...
Komentar
Posting Komentar